Opini
Artikulasi Samar, Meritokrasi Kabur: Ketika Nilai Kehilangan Kompas
Tetapi rakyat juga punya batin, dan batin rakyat tidak selalu bisa disuruh diam oleh istilah teknis.
Maka ketika jabatan diberikan tanpa artikulasi yang meyakinkan, orang orang mulai menafsir dalam diam.
Diam kampus itu berbahaya, sebab ia bukan selalu tanda setuju. Kadang diam adalah cara paling sopan untuk mengatakan bahwa kepercayaan sedang wafat pelan pelan.
Kampus punya jenis luka yang berbeda dari pasar atau kantor biasa.
Di kampus, orang tidak hanya bekerja mencari gaji, tetapi juga mencari martabat pengetahuan. Jika meritokrasi kabur, dosen akan bertanya untuk apa berprestasi.
Jika rekam jejak tidak dianggap penting, staf akan bertanya untuk apa setia pada mutu. Jika kedekatan lebih cepat naik daripada kompetensi, mahasiswa akan belajar sinisme sebelum belajar teori.
Inilah racun paling lembut dalam institusi akademik. Ia tidak meledakkan gedung, tetapi mengosongkan jiwa orang orang yang bekerja di dalamnya.
Namun kritik juga harus tahu adabnya. Menilai proses tidak boleh berubah menjadi membakar pribadi.
Yang harus dituntut adalah keterbukaan alasan, bukan penghinaan manusia. Jika seseorang dipilih, jelaskanlah mengapa ia layak. Jika ada keberatan, jawablah dengan data.
Birokrasi sering merasa diam itu wibawa, padahal dalam zaman penuh kecurigaan, diam adalah pupuk bagi kabar liar.
Dari ruang kampus inilah, kita melihat bahwa tiga peristiwa tadi sebenarnya bukan tiga cerita, melainkan satu pola tentang kaburnya ukuran kelayakan.
Sejarah sudah terlalu sering memberi kuliah, tetapi manusia sering bolos dari kelasnya.
Romawi tidak runtuh hanya karena musuh datang dari luar pagar. Ia lebih dulu keropos dari dalam ketika jabatan menjadi barang tawar menawar. Orang cakap tersisih, orang dekat naik, dan negara perlahan kehilangan uratnya.
Tentara kehilangan setia, rakyat kehilangan percaya, elite kehilangan malu.
Begitulah bangsa besar menjadi tua sebelum waktunya. Keruntuhan sering datang bukan sebagai petir, tetapi sebagai rayap.
Dalam sejarah Islam pun kita membaca pola yang mirip. Peradaban yang pernah menyalakan ilmu bisa redup ketika amanah berubah menjadi hadiah politik.
Ulama didengar selama tidak mengganggu istana, cendekiawan dipakai selama tidak mengusik kepentingan.
Ketika ilmu tunduk kepada kekuasaan, maka kebenaran mulai memakai suara pelan. Negara mungkin masih punya bendera, tetapi kehilangan kompas.
Istana mungkin masih punya penjaga, tetapi kehilangan hikmah. Dan ketika hikmah pergi, pedang paling tajam pun tidak sanggup menjaga peradaban.
Revolusi Prancis juga bukan hanya kisah roti dan lapar. Ia adalah kisah tentang rasa muak kepada privilese yang terlalu lama berdandan sebagai kewajaran.
Rakyat melihat yang dekat dengan kuasa hidup nyaman, sementara yang bekerja keras tetap diinjak sejarah.
Pada mulanya orang hanya mengeluh. Lalu mengeluh menjadi marah. Lalu marah menjadi badai.
Maka penguasa yang bijak seharusnya takut bukan kepada kritik, tetapi kepada hari ketika rakyat berhenti percaya pada semua penjelasan resmi.
Efek paling panjang dari semua ini akan jatuh ke generasi mendatang. Anak yang menonton LCC akan mengingat bahwa jawaban benar bisa kalah oleh telinga yang berkuasa.
Mahasiswa yang melihat kampusnya akan mengingat bahwa prestasi bisa kalah oleh jalur yang tidak terlihat.
Anak muda yang melihat kasus hukum besar akan mengingat bahwa perubahan bisa berubah menjadi tuduhan.
Ingatan ingatan kecil itu akan menumpuk menjadi pandangan hidup. Mereka mungkin tetap sekolah, tetap kuliah, tetap bekerja, tetapi dengan hati yang makin sinis.
Dan bangsa yang membesarkan generasi sinis sedang menabung kehancurannya sendiri.
Generasi mendatang butuh melihat bahwa keadilan masih bisa berbicara terang.
Mereka butuh contoh bahwa siapa yang belajar akan dihargai, siapa yang bekerja akan diakui, dan siapa yang memimpin harus diuji oleh rekam jejak.
Mereka tidak boleh dibesarkan dalam keyakinan bahwa yang penting bukan kemampuan, melainkan koneksi.
Jika itu yang mereka pelajari, maka sekolah hanya akan mencetak pencari jalan pintas.
Kampus hanya akan mencetak sarjana yang pandai menyesuaikan diri dengan kuasa.
Negara hanya akan mencetak warga yang cerdas, tetapi tidak lagi percaya. Dan ketika kecerdasan berpisah dari kepercayaan, masa depan menjadi dingin.
Generasi mendatang membutuhkan contoh bahwa nilai masih memiliki ukuran.
Mereka perlu melihat bahwa siapa yang belajar akan dihargai. Mereka perlu percaya bahwa siapa yang bekerja dengan baik akan diakui.
Mereka perlu yakin bahwa siapa yang memimpin harus diuji oleh rekam jejak, bukan oleh kedekatan yang tidak dapat dijelaskan.
Bila keyakinan itu hilang, sekolah hanya akan melahirkan pencari jalan pintas. Kampus hanya akan melahirkan sarjana yang pandai membaca arah angin kuasa. Negara hanya akan melahirkan warga yang cerdas, tetapi tidak lagi percaya.
Maka tiga peristiwa ini sebaiknya tidak dibaca sebagai berita yang lewat begitu saja.
Nadiem, LCC Empat Pilar, dan polemik kepemimpinan kampus adalah tiga tanda dari satu kegelisahan yang sama.
Kita sedang menghadapi zaman ketika artikulasi menjadi samar, meritokrasi menjadi kabur, dan nilai kehilangan kompas.
Habermas mengingatkan bahwa institusi harus mampu menjelaskan dirinya agar tetap dipercaya. Bourdieu mengingatkan bahwa bahasa kuasa dapat melukai tanpa terlihat berdarah.
Young mengingatkan bahwa meritokrasi palsu dapat menjadi topeng ketidakadilan.
Dan Ibn Khaldun mengingatkan bahwa peradaban runtuh ketika keadilan tidak lagi menjadi denyut kekuasaan.
Bangsa masih bisa memperbaiki diri bila berani menjelaskan keputusan dengan jujur.
Bangsa masih bisa menyelamatkan masa depannya bila prestasi kembali diberi tempat yang layak.
Bangsa masih bisa menjaga anak anaknya bila kekuasaan mau mendengar ulang suara yang dianggap samar.
Tetapi bila kabut ini terus dipelihara, kita akan menjadi bangsa yang rajin berbicara tentang keunggulan, tetapi lupa cara memilih yang sungguh unggul.
Kita akan menjadi negeri yang hafal nilai, tetapi kehilangan standar.
Kita akan menjadi peradaban yang sibuk membangun gedung, tetapi lalai menjaga kompas.
Sejarah telah berkali kali memberi peringatan, dan tugas kita hanyalah tidak pura pura tuli.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250916-Muhamad-Majdy-Amiruddin.jpg)