Opini
Artikulasi Samar, Meritokrasi Kabur: Ketika Nilai Kehilangan Kompas
Tetapi rakyat juga punya batin, dan batin rakyat tidak selalu bisa disuruh diam oleh istilah teknis.
Sebab yang paling berbahaya bukan juri yang salah dengar, melainkan sistem yang tidak mau mendengar ulang.
Permintaan maaf tentu baik, tetapi maaf tidak boleh menjadi sapu untuk menyembunyikan debu.
Jika suara adalah dasar nilai, maka rekaman harus menjadi saksi. Jika juri adalah penjaga keadilan lomba, maka juri juga harus dijaga oleh mekanisme yang adil.
Anak anak tidak boleh diajari bahwa kekuasaan selalu menang atas bukti. Mereka sedang belajar menjadi warga negara, bukan sedang belajar menjadi orang yang pasrah pada ketidakjelasan.
Dalam panggung kecil itu, negara tampil dalam ukuran mini.
Dari situ pertanyaan melebar, sebab jika meritokrasi kabur di arena lomba, bagaimana ia bekerja di arena yang lebih besar bernama kampus.
Di kampus, kabutnya lebih halus tetapi baunya lebih lama tinggal.
Pemilihan pimpinan bukan sekadar urusan kursi, sebab kursi di kampus selalu membawa kitab, rapat, akreditasi, mahasiswa, dosen, dan harapan.
Ketika seorang figur dipilih, civitas academica tidak hanya melihat nama, tetapi membaca rekam jejak.
Mereka bertanya, apakah yang dipilih adalah kemampuan atau kedekatan.
Mereka bertanya, apakah yang dihargai adalah prestasi atau kepatuhan.
Kampus seharusnya menjadi rumah akal sehat, bukan rumah tebak tebakan politik. Jika akal sehat kalah di kampus, ke mana lagi ia harus mengungsi.
Kepemimpinan akademik tidak lahir dari seremoni pelantikan saja. Ia lahir dari ingatan kolektif tentang siapa yang bekerja, siapa yang membuka jalan, dan siapa yang membuat orang lain sulit bernapas.
Akreditasi, publikasi, LMS, guru besar, dan reputasi bukan buah yang jatuh dari langit.
Semua itu tumbuh dari tanah kerja, keringat tim, dan arah manajerial.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20250916-Muhamad-Majdy-Amiruddin.jpg)