Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

'Pesta Babi', Potret Krisis Ekologis dan Kemanusiaan Tanah Papua

Pembangunan yang ugal-ugalan ini tidak hanya merusak lingkungan saat ini, tetapi juga mewariskan beban berat bagi generasi mendatang.

Tayang:
Editor: Sudirman
Tribun-timur.com
OPINI - Andi Iqbal Burhanuddin 

Oleh: Andi Iqbal Burhanuddin

TRIBUN-TIMUR.COM - Indonesia, negeri yang zamrud khatulistiwa, kini tengah berada dalam cengkeraman paradoks.

Di balik narasi "pembangunan nasional", "proyek strategis", dan "pertumbuhan ekonomi", tersembunyi kenyataan pahit: kehancuran bentang alam yang masif dan sistematis.

Atas nama kemajuan, hutan-hutan adat yang menjadi benteng pertahanan ekologis diratakan, sungai-sungai diracuni, dan laut diubah menjadi kuburan keanekaragaman hayati.

Pembangunan yang ugal-ugalan ini tidak hanya merusak lingkungan saat ini, tetapi juga mewariskan beban berat bagi generasi mendatang.

Banjir, tanah longsor, dan kekeringan menjadi "bencana alam" yang sebenarnya berakar dari kesalahan pengelolaan tata ruang dan perusakan hutan.  

Pembangunan seharusnya menyejahterakan manusia, bukan memiskinkan manusia dengan menghancurkan alam tempat mereka hidup.

Saat alam terbebani melebihi daya dukungnya, yang tersisa hanyalah sisa-sisa reruntuhan dan krisis yang tak berkesudahan.

Pesta Babi dan Relasi Sosial

Sudah berabad-abad babi menempati posisi penting sebagai harta berharga di Papua.

Tujuan Belanda di tahun 50-an untuk memperbaiki mutu babi lokal di wilayah Wisselmeren (Danau Paniai) melalui program persilangan dengan babi impor bertubuh besar, sayangnya berbuah kegagalan yang merugikan.  

Virus yang terbawa oleh babi impor menulari babi setempat, menciptakan bencana serius bagi masyarakat yang mengandalkan babi sebagai makanan berprotein dan lambang status sosial.

H.L. Peters (1965) dalam bukunya menekankan bahwa babi memegang peranan multifungsi yang vital bagi sebagian besar orang Papua.  

Konsumsi daging babi dalam Pesta babi tidak dilakukan secara rutin, melainkan terikat pada momen-momen adat penting—perkawinan, inisiasi, dan upacara kematian—bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan makan.

Karena peran pentingnya tersebut, kematian babi dianggap sebagai kerugian besar bagi relasi sosial antar-suku.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved