Opini
PSM vs Persib: Satu Laga, Seribu Makna
Ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan bahwa posisi papan bawah hanyalah anomali, bukan representasi kualitas mereka yang sebenarnya.
Oleh: Hidayat Marmin Tayjeb
Dosen Universitas Bosowa / Pemerhati PSM Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Secara matematis, laga antara PSM Makassar menjamu Persib Bandung di Stadion Gelora B.J. Habibie pada 17 Mei mendatang mungkin tidak lagi menentukan hidup-mati Juku Eja.
Kepastian aman dari jerat degradasi setelah pekan ke-32 memberikan napas lega bagi publik sepak bola Sulawesi Selatan.
Namun, bagi siapa pun yang darahnya mengalir semangat Ewako, pertandingan ini jauh melampaui sekadar angka di papan skor atau posisi di klasemen.
Laga ini adalah tentang satu hal: Restorasi Martabat!
Ujian Siri’ Na Pacce
Musim 2025/2026 bukanlah musim yang ramah bagi sang juara bertahan dua musim silam ini.
Terseok-seok di papan bawah hingga nyaris terperosok ke jurang degradasi tentu melukai harga diri fans.
Di sinilah filosofi Siri’ na Pacce diuji.
Dalam budaya Bugis-Makassar, Siri’ (harga diri) adalah nyawa.
Ketika prestasi sedang terpuruk, maka satu-satunya cara untuk membayarnya adalah dengan menunjukkan kegigihan yang tak kenal kompromi di lapangan hijau.
Menghadapi Persib Bandung yang datang dengan status calon kuat juara (campione), PSM tidak boleh sekadar menjadi “pelengkap jadwal”.
Menang atas calon juara di penghujung musim adalah cara paling elegan untuk mengatakan pada publik sepak bola Indonesia bahwa Juku Eja tetaplah raksasa, meski sedang terluka.
Batu Sandungan Sang Calon Juara
Persib Bandung mungkin datang dengan ambisi mengunci gelar juara di Parepare.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-14-Hidayat-Marmin.jpg)