Opini
Partai Golkar Sulsel dan DNA Kekuasaan
Partai Golkar selalu memiliki karakter berbeda dibandingkan sebagian besar partai politik nasional lainnya.
Oleh: M Fadli Noor
Alumni Golkar Institute
TRIBUN-TIMUR.COM - Kekalahan Partai Golkar di Sulawesi Selatan pada Pemilu 2024 menghadirkan perubahan penting dalam lanskap politik lokal yang selama puluhan tahun didominasi kekuatan politik berwarna kuning tersebut.
Realitas politik ini jangan dipahami hanya sebagai penurunan elektoral biasa karena kekalahan itu sekaligus menandai melemahnya struktur kekuasaan yang selama ini menopang dominasi Partai Golkar di Sulawesi Selatan dimana sejak Orde Baru hingga Pemilu 2019 dikenal luas sebagai salah satu basis sosial dan politik terkuat partai ini.
Dalam sejarah politik Indonesia modern, Partai Golkar selalu memiliki karakter berbeda dibandingkan sebagian besar partai politik nasional lainnya.
Jika sebagian partai tumbuh dari basis ideologi atau gerakan sosial tertentu, maka Golkar berkembang sebagai partai kekuasaan yang menghubungkan negara dengan elite-elite lokal di berbagai daerah strategis.
Richard Sakwa menyebut model organisasi semacam itu sebagai party of power, yaitu partai yang bertahan melalui kemampuan mengonsolidasikan birokrasi, patronase politik, dan jaringan elite nasional secara berkelanjutan.
Di Sulawesi Selatan, karakter tersebut terlihat sangat nyata melalui hubungan kuat antara Golkar, kepala daerah, birokrasi pemerintahan, dan pengusaha lokal selama bertahun-tahun.
Kekuatan politik Golkar di Sulawesi Selatan sebenarnya tidak hanya berasal dari kemampuan organisasi internal partai semata.
Kekuatan tersebut terutama lahir dari keberhasilannya menjadi pusat gravitasi seluruh elite daerah yang memiliki pengaruh sosial, ekonomi, dan birokrasi pemerintahan secara bersamaan.
Menurut perspektif teori patron-client yang dikembangkan James Scott, masyarakat dengan kultur patronal cenderung membangun hubungan politik berdasarkan loyalitas personal dan distribusi sumber daya secara berjenjang.
Pada masyarakat semacam itu, seorang pemimpin dihormati bukan karena kualitas gagasan ideologisnya, melainkan karena kemampuan menghadirkan akses kekuasaan, perlindungan politik, dan bantuan sosial-ekonomi kepada masyarakat pendukungnya.
Karakter sosial semacam itu masih cukup dominan dalam konfigurasi politik Sulawesi Selatan hingga momentum politik kontemporer saat ini.
Oleh sebab itu partai politik akan jauh lebih efektif apabila dipimpin figur yang memiliki kekuasaan nyata dan kemampuan distribusi patronase politik secara luas dan terukur.
Fakta sejarah kepemimpinan Golkar Sulawesi Selatan hampir selalu berkaitan dengan figur yang memiliki akses langsung terhadap kekuasaan pemerintahan nasional maupun lokal.
Tokoh-tokoh seperti Amin Syam, Syahrul Yasin Limpo, dan Nurdin Halid memperlihatkan bagaimana Golkar Sulsel bertumpu pada figur yang memiliki pengaruh birokrasi, legitimasi elektoral, dan jejaring ekonomi-politik nasional secara bersamaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-21-Muhammad-Fadli-Noor.jpg)