Kilas Tokyo
Pertarungan Tanpa Akhir
Bisnis elektronik Jepang berlomba menelorkan inovasi baru, dikenal sebagai ‘monozukuri’ mengandalkan proses perakitan berjenjang dari awal.
Oleh: Muh. Zulkifli Mochtar
Diaspora Indonesia di Tokyo, Ketua ICMI Jepang
TRIBUN-TIMUR.COM - Bila wanita dianggap gemar belanja barang berbau fashion, pria umumnya menyenangi barang elektronik.
Saya setuju untuk ini; itulah alasan area favorit saya di Tokyo salah satunya adalah kawasan Akihabara.
Pertama kali mengunjungi kawasan ini 25 tahun lalu.
Saya ingat betul waktu itu saya mencari camera digital Sony dan video camera Hitachi.
Belakangan, selain elektronik - Akihabara makin dianggap sebagai pusat budaya populer Jepang.
Toko anime, manga dan maid café makin marak di kawasan ini.
Akihabara dijuluki Akihabara Electric Town karena jadi pusat penjualan berbagai barang barang elektronik kebutuhan rumah tangga, yang tentu saja mayoritas buatan Jepang.
Kawasan ini sangat ramai di era bubble economic Japan era 1960 - 1990 dan menjadi salah satu ikon menarik kota Tokyo.
Saat itu Jepang adalah sebuah episentrum merk elektronik global: Sony, Panasonic, Sharp, Canon, Fujitsu, Hitachi, Nikon, Casio, JVC, Nikon, Nintendo dan puluhan merk besar Jepang lain.
Bisnis elektronik Jepang berlomba menelorkan inovasi baru, dikenal sebagai ‘monozukuri’ mengandalkan proses perakitan berjenjang dari awal.
Lalu minat Konsumen dunia mulai banyak bergeser.
Walkman ciptaan Sony tergeser oleh software iTunes.
Semua serba internet, instal software, dan tinggal klik aplikasi saja.
Kompetisi price juga makin menentukan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Zulkifli-Mochtar-07032026.jpg)