Opini
Ekonomi Tumbuh 5,61 Persen, Tapi Mengapa Rakyat Masih Susah?
Slide presentasi menampilkan angka 5,61?ngan grafik hijau menanjak. "Ini bukti akselerasi ekonomi!" seru salah satu menteri.
Oleh : Syamsu Alam
Dosen FEB UNM
TRIBUN-TIMUR.COM - Ini sebuah paradoks angka dan realitas. Di ruang rapat mewah Jakarta, para pejabat tersenyum bangga.
Slide presentasi menampilkan angka 5,61 persen dengan grafik hijau menanjak. "Ini bukti akselerasi ekonomi!" seru salah satu menteri.
Namun, di warung kopi pinggiran kota, seorang ibu mengeluh, "Harga sembako naik, anak baru lulus susah dapat kerja, tapi katanya ekonomi tumbuh? Kedua adegan ini nyata.
Dan keduanya berbicara tentang hal yang sama, ekonomi Indonesia. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Pertumbuhan Semu dan Badai yang Mengintai
Secara teknis, angka 5,61 % di triwulan I-2026 bisa dijelaskan. Belanja pemerintah melonjak 22?rkat program Makan Bergizi Gratis (MBG), THR Lebaran, dan pembangunan Koperasi Merah Putih. Konsumsi rumah tangga tumbuh 5,2 % .
Tapi ada pertanyaan kritis, dari mana asal konsumsi itu? Data menunjukkan pinjaman online (pinjol) naik triliunan rupiah, demikian pula transaksi Pegadaian.
Ini bukan konsumsi sehat dari kenaikan upah, melainkan distressed consumption, konsumsi bertahan hidup yang didanai utang.
Teori Keynesian Multiplier memang benar, belanja pemerintah menciptakan pertumbuhan.
Tapi jika belanja itu tidak produktif, misalnya SPG dikuasai segelintir pemilik, UMKM lokal tidak dilibatkan, maka terjadi kehilangan pertumbuhan bagi UMKM Lokal.
Pertumbuhan jadi ilusi statistik yang tidak menembus ekonomi riil rakyat kecil.
Angka 5,61?alah cerita masa lalu (Januari-Maret). Untuk triwulan berikutnya, ada tiga badai struktural mengancam.
Pertama, rupiah yang melemah struktural. Bank Indonesia sudah mengerahkan berbagai instrumen intervensi, swap, obligasi stabilisasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-05-13-Syamsu-AlamDosen-FEB-UNM.jpg)