Opini
Demokrasi dan Nama Keluarga
Ia hanya bergeser beberapa langkah di dalam ruang keluarga yang sama. Secara hukum, tidak ada masalah.
Secara hukum, semuanya tampak bersih. Tetapi secara etika publik, kegelisahan itu tetap ada. Karena etika tidak hanya bertanya: “Apakah ini sah?” Etika juga bertanya: “Apakah ini adil?”
Dan keadilan demokrasi bukan sekadar semua orang boleh ikut bertanding.
Keadilan juga berarti setiap orang memiliki peluang yang wajar untuk menang.
Tetapi bagaimana mungkin kompetisi disebut setara jika sebagian peserta bahkan sudah dikenal publik sejak lahir?
Bagaimana mungkin kader biasa dapat bersaing ketika sebagian nama telah diwarisi jaringan politik puluhan tahun?
Bagaimana mungkin rakyat percaya politik terbuka untuk semua jika pintu-pintu penting lebih mudah terbuka bagi mereka yang membawa nama tertentu?
Di sinilah problem terbesar dinasti politik sebenarnya berada. Bukan semata pada individu yang maju, melainkan pada dampaknya terhadap psikologi demokrasi.
Rakyat mulai merasa bahwa politik bukan ruang publik, melainkan ruang keluarga.
Anak-anak muda berbakat mulai percaya bahwa tanpa koneksi elite, peluang mereka terlalu kecil.
Kader-kader idealis mulai lelah melihat jalur politik lebih ditentukan oleh garis keturunan dibanding kapasitas.
Dan perlahan-lahan, demokrasi kehilangan energi moralnya. Pemilu tetap ada. Partai tetap berdiri.
Sidang tetap berjalan.
Tetapi harapan publik mulai menipis. Karena mereka merasa hasil akhirnya sering kali hanya pergantian nama di dalam lingkar yang sama.
Lucunya, sebagian masyarakat justru ikut merawat budaya ini. Kita terlalu mudah jatuh cinta pada nama besar.
Terlalu mudah menganggap popularitas sebagai kapasitas. Terlalu mudah mengira kedekatan dengan kekuasaan sebagai tanda kelayakan.
Di negeri ini, nama keluarga kadang bekerja seperti jimat politik. Dan partai-partai tentu memahami psikologi itu.
Mengusung nama yang sudah dikenal jauh lebih murah dibanding membangun kader baru dari nol.
Politik modern membutuhkan biaya besar. Membutuhkan eksposur. Membutuhkan pengenalan publik.
Maka nama keluarga menjadi investasi elektoral yang sangat menguntungkan.
Partai akhirnya lebih sibuk menghitung peluang menang daripada membangun kualitas demokrasi. Mereka menjadi mesin elektoral, bukan sekolah kepemimpinan.
Dan di situlah meritokrasi perlahan mati pelan-pelan. Orang-orang hebat yang lahir dari bawah mulai merasa politik bukan tempat bagi mereka.
Mereka melihat arena sudah terlalu penuh oleh wajah-wajah yang saling berkerabat. Mereka melihat sebagian orang memulai lomba beberapa kilometer di depan garis start. Lalu mereka memilih mundur.
Sebagian menjadi apatis. Sebagian menjadi sinis. Sebagian memilih tidak peduli lagi.
Padahal demokrasi tidak mati hanya ketika pemilu dibatalkan. Demokrasi juga mati ketika rakyat kehilangan keyakinan bahwa sistem ini sungguh memberi peluang yang adil.
Dan mungkin inilah ironi terbesar zaman kita. Kita berhasil menggulingkan feodalisme lama, tetapi diam-diam membangun feodalisme baru dengan bahasa demokrasi. Kita menolak kerajaan, tetapi memaklumi dinasti politik.
Kita mengutuk warisan tahta, tetapi tersenyum pada warisan pengaruh. Semua dibungkus prosedur.
Semua disahkan aturan. Semua tampak konstitusional. Lalu setiap kritik dijawab dengan kalimat yang sangat administratif “Tidak ada pelanggaran hukum.”
Benar. Memang tidak ada. Tetapi sejarah manusia tidak hanya dibangun oleh hukum.
Ia juga dibangun oleh rasa malu. Kepatutan. Etika dan kesadaran bahwa kekuasaan seharusnya tidak terasa seperti milik keluarga tertentu. Karena hukum hanyalah batas minimal agar negara tidak kacau.
Sedangkan etika adalah cahaya yang menjaga agar demokrasi tetap bermartabat.
Tanpa etika, demokrasi bisa tetap hidup secara prosedural tetapi mati secara batin.
Ia tetap memiliki gedung parlemen, tetapi kehilangan kepercayaan rakyat. Ia tetap memiliki pemilu, tetapi kehilangan harapan publik. Ia tetap memiliki konstitusi, tetapi kehilangan rasa keadilan.
Dan ketika itu terjadi, rakyat perlahan mulai merasa asing terhadap negaranya sendiri.
Mereka melihat kekuasaan seperti pesta besar yang boleh ditonton semua orang, tetapi meja utamanya selalu diisi keluarga yang sama.
Sementara rakyat biasa hanya menjadi tamu yang datang setiap lima tahun untuk meramaikan ruangan, lalu dipersilakan pulang setelah tepuk tangan selesai.
Gerhana Alauddin, 15 Mei 2026
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/17102025_Mustamin-Raga.jpg)