Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Psychological Preparedness Menghadapi Banjir Bandang

Dalam konteks bencana, masyarakat perlu mengenal satu konsep penting: psychological preparedness

Tayang:
Editor: Ari Maryadi
Tribun-timur.com
Suryanto Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga 

Oleh: Suryanto
Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

 

BANJIR di Bone, Sulawesi Selatan, beberapa hari lalu meninggalkan duka yang tidak ringan. Hujan deras sejak Kamis malam, 7 Mei 2026, membuat sejumlah wilayah di Kota Watampone terendam. Dua warga meninggal dunia: seorang lansia bernama Naima (80) dan seorang anak laki-laki bernama Muhammad Arsyah (6). Keduanya mewakili kelompok yang paling rentan ketika bencana datang cepat: orang tua yang sulit bergerak sigap, dan anak-anak yang belum sepenuhnya memahami bahaya.

Peristiwa ini memberi pelajaran penting. Banjir bukan hanya soal air yang masuk ke rumah. Bukan hanya soal jalan yang berubah menjadi genangan, kasur yang basah, perabot yang rusak, atau aktivitas warga yang lumpuh. Banjir juga mengguncang rasa aman. Ia membuat orang tua panik mencari anaknya. Ia membuat lansia merasa tak berdaya. Ia membuat anak-anak bisa menyimpan ketakutan panjang setiap kali mendengar hujan turun.

Psychological preparedness

Dalam konteks bencana seperti itu, masyarakat perlu mengenal satu konsep penting: psychological preparedness atau kesiapsiagaan psikologis. Ini adalah kesiapan mental seseorang, keluarga, dan komunitas untuk memahami risiko, mengendalikan rasa takut, mengambil keputusan cepat, dan tetap mampu bertindak wajar ketika ancaman datang. Konsep ini penting terutama untuk menghadapi banjir bandang atau flash flood. Pada banjir bandang ini, datangnya air cepat, deras, mengejutkan, dan sering menyisakan waktu berpikir yang sangat pendek.

Di sinilah masalah psikologis mulai bekerja. Saat bahaya datang tiba-tiba, manusia tidak selalu langsung berpikir jernih. Ada yang panik. Ada yang berteriak tanpa arah. Ada yang membeku dan tidak tahu harus melakukan apa. Ada yang justru sibuk menyelamatkan barang, sementara air terus naik. Ada pula yang terlambat pergi karena merasa situasi masih bisa dikendalikan.

Dalam psikologi bencana, gejala terakhir ini dekat dengan normalcy bias. Orang cenderung percaya bahwa keadaan akan tetap normal seperti sebelumnya. Warga di daerah yang sering banjir bisa berpikir, “Biasanya juga begini, nanti juga surut.” Pikiran itu manusiawi. Tetapi dalam banjir bandang, pikiran seperti itu bisa berbahaya. Banjir hari ini belum tentu sama dengan banjir kemarin. Air bisa lebih tinggi. Arus bisa lebih kuat. Waktu evakuasi bisa jauh lebih pendek.

Karena itu, mekanisme pertama dalam psychological preparedness adalah membangun kesadaran risiko. Warga perlu dilatih untuk tidak meremehkan tanda bahaya. Hujan deras berjam-jam, air sungai yang naik cepat, selokan yang meluap, suara arus yang tidak biasa, dan peringatan dari aparat harus ditanggapi serius. Di daerah rawan banjir, kalimat “sudah biasa” harus diganti dengan “tetap waspada”.

Mekanisme kedua adalah membuat rencana keluarga. Setiap rumah di wilayah rawan banjir perlu memiliki kesepakatan sederhana. Siapa yang menggendong anak kecil? Siapa yang membantu lansia? Di mana obat-obatan disimpan? Di mana dokumen penting diletakkan? Ke mana harus mengungsi? Siapa yang dihubungi bila anggota keluarga terpisah? Orang yang tidak punya rencana biasanya mudah bingung, saling menunggu, bahkan terlambat menyelamatkan diri.

Mekanisme ketiga adalah melatih respons otomatis. Dalam banjir bandang, instruksi harus pendek dan jelas. Matikan listrik. Ambil tas siaga. Bawa anak dan lansia. Tinggalkan barang. Bergerak ke tempat tinggi. Jangan menyeberangi arus deras. Jangan kembali ke rumah hanya untuk mengambil benda yang tertinggal.

Ini terdengar sederhana, tetapi justru yang sederhana sering menyelamatkan. Dalam keadaan panik, otak manusia sulit menerima perintah panjang. Karena itu, warga harus terbiasa dengan kalimat-kalimat pendek yang bisa langsung dikerjakan.

Mekanisme keempat adalah menguatkan komando sosial. Pada saat bencana, terlalu banyak suara dapat membuat warga makin bingung. Karena itu, perlu ada figur yang dipercaya: BPBD, kepala lingkungan, aparat desa, RT/RW, tokoh agama, relawan, pemuda, dan guru. Mereka harus tahu tugas masing-masing. Siapa memberi informasi? Siapa mengecek rumah lansia? Siapa membantu anak-anak? Siapa mengarahkan warga ke titik aman?

BPBD tidak cukup hanya hadir setelah banjir terjadi. BPBD perlu memperkuat edukasi pra-bencana, membuat simulasi evakuasi, menyusun peta warga rentan, dan memastikan sistem peringatan dini dipahami warga. Pemerintah daerah perlu memastikan drainase, tata ruang, posko, jalur evakuasi, dan informasi publik berjalan baik. Sekolah perlu mengajarkan anak-anak cara menyelamatkan diri. Masjid, balai desa, dan komunitas lokal bisa menjadi pusat latihan kesiapsiagaan.

Warga juga tidak boleh hanya menjadi penerima bantuan. Warga harus menjadi bagian dari sistem keselamatan. Keluarga perlu menyiapkan tas siaga. Tetangga perlu saling mengetahui siapa yang tinggal sendiri, siapa yang lansia, siapa yang sakit, dan siapa yang memiliki anak kecil. Dalam banjir bandang, solidaritas sosial sering menjadi penyelamat pertama sebelum bantuan resmi datang.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved