Opini
Demokrasi dan Nama Keluarga
Ia hanya bergeser beberapa langkah di dalam ruang keluarga yang sama. Secara hukum, tidak ada masalah.
Pareto mengatakan bahwa sejarah manusia pada dasarnya adalah sejarah perputaran elite. Kekuasaan selalu berada di tangan kelompok tertentu.
Yang berubah hanyalah siapa yang duduk di kursi itu.
Tetapi Pareto juga mengingatkan sesuatu yang lebih tajam bahwa sering kali yang terjadi bukan pergantian elite, melainkan reproduksi elite. Wajah berubah. Usia berubah. Generasi berubah. Tetapi struktur pengaruh tetap berada di lingkar yang sama.
Seorang ayah turun. Anaknya naik.
Seorang kakak selesai. Adiknya masuk. Seorang suami berhenti. Istrinya melanjutkan.
Kekuasaan bergerak, tetapi hanya berputar di orbit keluarga yang sama seperti planet yang tidak pernah benar-benar keluar dari garis edarnya.
Maka demokrasi modern kadang terasa seperti kerajaan yang berganti kostum. Ia tidak lagi memakai mahkota. Ia memakai jas partai.
Ia tidak lagi diwariskan lewat titah raja. Ia diwariskan lewat jaringan politik. Ia tidak lagi disebut dinasti. Ia disebut regenerasi.
Dan kata “regenerasi” sering terdengar jauh lebih sopan daripada “pewarisan kekuasaan.”
Padahal keduanya tidak selalu sama. Regenerasi lahir dari kompetisi sehat, kaderisasi terbuka, dan pengakuan atas kapasitas.
Sedangkan reproduksi elite lahir dari kemampuan mempertahankan pengaruh melalui keluarga, jaringan, dan akses kekuasaan.
Masalahnya, dalam politik modern, batas di antara keduanya sering menjadi kabur.
Sebab nepotisme hari ini tidak selalu tampil kasar seperti zaman feodal. Ia tidak selalu datang dengan menunjuk keluarga secara vulgar tanpa proses. Tidak.
Nepotisme modern jauh lebih halus. Lebih elegan. Lebih administratif. Lebih konstitusional.
Ia bekerja melalui: akses, popularitas, kedekatan, dan privilese yang tidak dimiliki semua orang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/17102025_Mustamin-Raga.jpg)