Opini
Pepaya Busuk dan Tambang di PBNU Versi Amure
Konflik itu belum selesai sampai sekarang karena belum ditemukan benang merahnya, yang ada hanyalah benang ruwet.
Amure berharap agar NU sebagai ormas Islam yang bergensi seperti pohon pepaya yang menghasilkan buah yang berharga, buah pepaya yang manis, buah yang melambangkan kesehatan dan kemakmuran secara lahiriah dan batiniah.
Amure menggarisbawahi bahwa khusus dari segi batiniah, NU sekarang tidak lagi profan dengan misi sebagai pembawa bendera Aswaja. Kalangan politisi melihat bahwa NU bukan lagi lembaga pure agamis, tapi menjadi supra politik.
Di kalangan government, NU sudah tergadai idealismenya sebagai gerakan masyarakat sipil dengan ambisi tambang sialan itu. Tegas Amure di grup WA Aswaja (Rabu/03/12).
Guru saya pernah berpesan, “Jangan tanam pepaya di sekitar rumahmu karena hidupmu akan payah.”
Nah, karena pepaya yang tertanam di PBNU ini sudah busuk menurut Amure maka tunggu muktamar saja. Demikian harapan Amure sekaligus solusi yang ditawarkannya via grup WA Aswaja.
Amure berharap pepaya busuk di PBNU segera jatuh tanpa disodok.
Sebagai solusi terakhir yang ditawarkan senior Amure Kiai Malik Madani agar Muktamar segera dilaksanakan dengan catatan tokoh-tokoh di PBNU yang berkonflik tidak boleh mencalonkan diri atau dicalonkan karena mereka telah gagal menakhodai NU. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Tahriq.(*)
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Makassar Harus Menyelesaikan Sampahnya Sendiri, Dimulai dari Lorong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-05-Mahmud-Suyuti.jpg)