Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Kepemimpinan Geokultural

Di balik eskalasi besar, terdapat dimensi lain yang lebih halus namun berpengaruh besar, yakni kebudayaan.

Ist
OPINI - Muhammad Suryadi R, Direktur Eksekutif Parametric Development Center. 

Oleh: Muhammad Suryadi R
Direktur Eksekutif Parametric Development Center

TRIBUN-TIMUR.COM - Dunia saat ini tidak cukup dipahami hanya sebagai peta kontestasi kekuatan militer dan ekonomi.

Mapping dunia tidak lagi sesederhana itu.

Apa yang terjadi di Venezuela dan Iran tidak semata tentang geopolitik, minyak, dan nuklir.

Di balik eskalasi besar, terdapat dimensi lain yang lebih halus namun berpengaruh besar, yakni kebudayaan.

Jika geopolitik berbicara tentang bagaimana ruang dikelola dan dikuasai, maka kebudayaan menjelaskan bagaimana makna dibentuk dan dipertahankan.

Dalam perspektif klasik hubungan internasional, dunia seringkali dilihat sebagai ajang pertarungan kekuatan-kekuatan di dunia.

John Mearsheimer dalam The Tragedy of Great Power Politics, menjelaskan bahwa negara-negara besar cenderung memperbesar kekuatannya demi menjamin keamanan.

Dalam sistem global yang hampir dipastikan tidak memiliki otoritas tertinggi, setiap negara pada akhirnya harus bergantung pada kekuatannya sendiri.

Terkadang konflik lebih sering menjadi konsekuensi logis daripada sebuah pengelakan.

Pandangan ini diamini oleh Henry Kissinger dalam World Order.

Henry menunjukkan bahwa tatanan dunia terbentuk melalui keseimbangan kepentingan dan pengalaman historis masing-masing negara.

Stabilitas tidak lahir dari kesamaan nilai, tetapi dari kemampuan negara-negara dalam menjaga keseimbangan kekuatan secara realistis.

Kepemimpinan Geokultural

Kendati demikian, perkembangan global termutakhir memperlihatkan bahwa kekuatan tidak selalu tampil dalam bentuk yang kasat mata.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved