Opini
Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia
Petani itu identik dengan tubuh kurus, usia tua, hidup pas-pasan, dan bekerja dengan cara-cara yang jauh dari teknologi.
Oleh: Tutik Sutiawati
Pendidik dan Penggiat Literasi Sejarah “Kassikebo”
TRIBUN-TIMUR.COM - Di halaman Istana Balla Lompoa Kassi Kebo, di wilayah Kekaraengan Marusu, penulis berkesempatan hadir diantara keramaian yang terasa akrab sekaligus menggetarkan.
Upacara adat Katto Bokko digelar selama dua hari, 3- 4 April 2026.
Sebuah upacara panen raya yang menurut catatan sejarah dan arsip lama Perpustakaan Leiden, Belanda, sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.
Setidaknya sejak masa kerajaan Gowa-Tallo.
Tradisi ini hadir dari masyarakat agraris Bugis-Makassar yang memahami betul bahwa hasil panen bukan sekadar kerja manusia, tetapi juga berkaitan dengan doa, kesabaran, dan restu Tuhan.
Sebagai anak petani, penulis tidak melihat ini hanya sebagai seremoni, tetapi melihat sebagai cermin yang memantulkan masa lalu sekaligus masa depan pertanian kita.
Sejak pagi, masyarakat mulai bergerak ke sawah.
Tidak ada kesan canggung. Tidak ada jarak antara generasi tua dan muda.
Justru yang paling menarik perhatian adalah kehadiran anak-anak muda- generasi milenial dan Gen Z- yang terlibat langsung dalam proses panen.
Mereka tidak sekadar hadir untuk dokumentasi atau simbolik. Mereka bekerja.
Mereka tahu apa yang harus dilakukan.
Mereka seperti sedang melanjutkan sesuatu yang sudah mereka mulai sejak masa tanam.
Di satu sisi, itu pemandangan yang menenangkan.
Tetapi di sisi lain timbul pertanyaan, apakah ini awal dari kebangkitan petani muda? Timbul rasa haru sekaligus bertanya, apakah ini pertanda bahwa pertanian sedang menemukan kembali generasi penerusnya.
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Makassar Harus Menyelesaikan Sampahnya Sendiri, Dimulai dari Lorong |
|
|---|
| Indonesia Bagian dari Kebun kami |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-01-06-Tutik-Sutiawati.jpg)