Literasi Ulama
AGH. Sanusi Baco dan Nahdlatul Ulum
JK menerima baik gagasan AGH. Sanusi Baco Lc mendirikan pesantren untuk penyelamatan generasi muda.
Oleh: Firdaus Muhammad
Pembina Pesantren An-Nahdlah, Dosen UIN Alauddin, dan Pengurus MUI Sulsel
TRIBUN-TIMUR.COM - Perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Provinsi Sulawesi Selatan digelar di Maros.
Kamis, 16/4/2026, saya menemani Malihatul Wajhi (Malihah) menyaksikan lomba kaligrafi yang ditempatkan di Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum Maros, pesantren yang didirikan oleh Anregurutta Haji (AGH) Sanusi Baco Lc.
Mulai pintu masuk hingga di area pesantren, tampak foto-foto AGH. Sanusi Baco beserta putra-putrinya yang melanjutkan kepemimpinan pesantren berhaluan Aswaja tersebut.
Tampak gedung megah yang mengabadikan dua nama gubernur Sulsel, HZB Palaguna dan Syahrul Yasin Limpo.
Selama berada di pesantren tersebut, tergiang kisah-kisah yang diceritakan AGH. Sanusi Baco dalam biografinya yang saya tulis tahun 2018.
Bagian darai buku itu mengisahkan, bersama istri, AGH. Sanusi Baco dirikan pesantren. Niat mendirikan pesantren terilhami dari bapak Jusuf Kalla (JK).
Perbincangan ringan antara AGH. Sanusi Baco Lc dengan M. Jusuf Kalla saat menghadiri pemakaman AGH. Djabbar Asyiri di Pesantren Gombara.
Kala itu, JK panggilan akrab Muh. Jusuf Kalla, cukup prihatian dengan kondisi anak-anak remaja.
Di tengah kegelisahan JK, mantan Wapres RI itu kemudian meminta pandangan AGH. Sanusi Baco Lc ihwal solusi mengatasi problematika remaja.
Bagi AGH. Sanusi Baco kala itu sebagai Ketua Umum MUI Sulsel, sesungguhnya bukan kenakalan remaja, tetapi problematika remaja yang butuh solusi, diantaranya, menanamkan akhlaq dan pengenalan dan pemahaman agama melalui lembaga pesantren.
JK menerima baik gagasan AGH. Sanusi Baco Lc mendirikan pesantren untuk penyelamatan generasi muda.
Tugas berat harus dijalankan sejak awal, yakni JK memintanya untuk menyiapkan lokasi.
Tidak kurang sebulan, AGH. Sanusi Baco Lc bersama istri, Dra. Hj. Aminah mencari lokasi untuk pembangunan pesantren yang diimpikan.
Kala itu, mencari lokasi dengan lahan yang luas untuk pembangunan pesantren cukup sulit di Makassar, maka alternatifnya mencari lokasi di Kabupaten Maros, tempat kelahirannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Firdaus-Muhammad-Guru-Besar-Komunikasi-Politik-Islam-UIN-Alauddin-Makassar.jpg)