Opini
Pepaya Busuk dan Tambang di PBNU Versi Amure
Konflik itu belum selesai sampai sekarang karena belum ditemukan benang merahnya, yang ada hanyalah benang ruwet.
Ringkasan Berita:
- Andi Muawiyah Ramly menilai konflik di PBNU diibaratkan “pepaya busuk” yang tumbuh di atas tambang.
- Berbagai tokoh NU dan PKB menyebut akar masalah konflik berkaitan dengan konsesi tambang dan pengelolaan keuangan.
- Mereka mengkiaskan PBNU berubah menjadi “komunitas pecinta tambang”.
- Kisruh ini memunculkan saling pecat antarelite seperti Yahya Cholil Staquf, Saifullah Yusuf, dan pengurus lainnya. Amure menilai NU telah tergerus idealismenya dan berharap Muktamar segera digelar.
Oleh: Mahmud Suyuti
Wakil Katib PWNU Sulawesi Selatan dan Dewan Penasehat GP Ansor Sulawesi Selatan
TRIBUN-TIMUR.COM - Andi Muawiyah Ramly Ewaiki disingkat Amure (l.10/10/1957) menilai konflik di PBNU karena ada pepaya busuk.
Politikus senior Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini kemudian bernarasi panjang tentang pepaya di grup WhatsApp Aswaja yang beranggotakan 142 orang tokoh nahdliyin Sulawesi Selatan.
Balasan chat berulir silih berganti menanggapi tulisan Amure tentang pepaya busuk sebagai petanda konflik di tubuh NU berlanjut pada narasi tentang cekcok NU yang ditulis Abdul Karim pada kolom klakson Tribun Timur (Rabu/03/12).
Ketua Dewas LAPAR Sulsel ini memastikan konflik ditengarai karena persoalan tambang.
Tulisan Abdul Karim tentang cekcok NU tershare di grup WhatsApp Aswaja dikomentari Amure bahwa NU sudah tergadai dengan ambisi tambangnya, fungsi gerakan kemaslahatan NU didefinisikan secara kacau oleh Ulil Absar demi tambang, tulis Amure menanggapi tulisan Abdul Karim.
Gayung bersambut Irham Jalil, Ketua PCNU Barru, berkomentar bahwa konflik di PBNU karena masalah pengelolaan keuangan dan pertambangan, kalau itu benar adanya maka akan panjang masalahnya.
Zainuddin Endy kemudian mengkiaskan PBNU sebagai KOPITA, Komunitas Pecinta Tambang. Tidak ketinggalan Mulyadi Prayitno lanjut berkomentar, “NU organisasinya Ancu (nama seseorang), persatuan pekerja tambang.”
Tarik Tambang di PBNU
Konflik di PBNU sudah berjalan separuh bulan dan menarik perhatian publik. Konflik itu belum selesai sampai sekarang karena belum ditemukan benang merahnya, yang ada hanyalah benang ruwet.
Amure menganalisis tarikan benang ruwet di PBNU memunculkan nama-nama tokoh NU dan non-NU seperti Bahlil+Yahya+Ipul= Konsesi tambang. Yahya+Ipul= Pecah kongsi tambang. Ipul+Rais Am= Pemecatan Yahya. Selanjutnya Yahya dkk = pemecatan Ipul.
Azhar Arsyad lalu menyimpulkan analisis Amure bahwa “Benang ruwet itu menyebabkan terjadinya perang antar dalang yang menjadi bohir tambang, wayangnya adalah GY dan GI. Tragis dan memilukan.” Pungkas Ketua PKB Sulawesi Selatan tersebut di grup WA Aswaja.
Analisis tarikan benang ruwet itu dibenarkan Mulyadi Prayitno. Ketua PB IKA PMII ini di grup WA Aswaja melalui chatnya menulis kupercaya analisisnya kak Amure tahu pola, karakter dan isi PBNU.
Hanya saja analisis tersebut masih simpang siur karena pada benang ruwet itu muncul nama Bahlil sebagai simbol benang kuning.
Munculnya nama Bahlil di benang ruwet beralih ke benang kuning sebagai sinyal peringatan sebelum lampu berganti menjadi hijau atau merah.
Lampu kuning muncul setelah lampu hijau untuk memberi tahu pengendara bahwa lampu merah akan segera menyala dan mereka harus berhenti.
Sebaliknya, lampu kuning juga bisa muncul setelah lampu merah untuk menandakan pengendara bersiap untuk jalan.
Masalahnya di sini karena Amure terlanjur menvonis pepaya tumbuh di atas tambang nikel dan meneruskan gambar pepaya California warna kuning di grup WA Aswaja.
Berbeda dengan pepaya hijau yang masih keras dan hambar. Pepaya kuning berarti sudah matang, rasanya manis, teksturnya lembut dan siap dikonsumsi.
Hanya saja Amure memberi warning pada gambar pepaya berwarna kuning tersebut sembari berpesan “Jangan dipetik, Nak, biar membusuk, nanti jatuh sendiri seperti mereka di Jakarta”.
Amure kemudian berpantun, “pepaya bosok tanpa disodok tetap jatuh.”
Sekarang sudah terbukti, petinggi NU sudah jatuh satu persatu. Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Iful jatuh dari posisinya Sekjend PBNU.
Dulunya Mardani Maming memang telah jatuh dari kursi Bendahara PBNU, penggantinya adalah Gudfan Arif Ghofur sebagai penerus Maming juga telah jatuh digantikan oleh H Sumantri Suwarno sebagai bendahara umum PBNU yang baru.
Jatuh menjatuhkan di PBNU semakin menimbulkan konflik di PBNU sebab Yahya Cholil Staquf sebenarnya juga sudah jatuh, Yahya sudah dipecat.
Versi Rais Syuriah, Yahya tidak lagi berstatus sebagai Ketum PBNU terhitung mulai tanggal 26 November 2025 pukul 00.45 WIB.
Namun sampai sekarang (Jumat/05/12/2025) rupanya Yahya masih bertahan dan menurutnya tidak bisa jatuhkan oleh Syuriah.
Yahya mengatakan keputusan penjatuhan dirinya berupa pemecatan sebagai Ketua Umum PBNU tidak sah dan tidak dapat diterima.
Yahya menuturkan sampai saat ini pucuk kepemimpinan PBNU masih di bawah komandonya. Tegas Yahya dalam konferensi pers di Kantor PBNU (Rabu/3/12).
Filosofi Pepaya Busuk
Amure berharap agar NU sebagai ormas Islam yang bergensi seperti pohon pepaya yang menghasilkan buah yang berharga, buah pepaya yang manis, buah yang melambangkan kesehatan dan kemakmuran secara lahiriah dan batiniah.
Amure menggarisbawahi bahwa khusus dari segi batiniah, NU sekarang tidak lagi profan dengan misi sebagai pembawa bendera Aswaja. Kalangan politisi melihat bahwa NU bukan lagi lembaga pure agamis, tapi menjadi supra politik.
Di kalangan government, NU sudah tergadai idealismenya sebagai gerakan masyarakat sipil dengan ambisi tambang sialan itu. Tegas Amure di grup WA Aswaja (Rabu/03/12).
Guru saya pernah berpesan, “Jangan tanam pepaya di sekitar rumahmu karena hidupmu akan payah.”
Nah, karena pepaya yang tertanam di PBNU ini sudah busuk menurut Amure maka tunggu muktamar saja. Demikian harapan Amure sekaligus solusi yang ditawarkannya via grup WA Aswaja.
Amure berharap pepaya busuk di PBNU segera jatuh tanpa disodok.
Sebagai solusi terakhir yang ditawarkan senior Amure Kiai Malik Madani agar Muktamar segera dilaksanakan dengan catatan tokoh-tokoh di PBNU yang berkonflik tidak boleh mencalonkan diri atau dicalonkan karena mereka telah gagal menakhodai NU. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Tahriq.(*)
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Makassar Harus Menyelesaikan Sampahnya Sendiri, Dimulai dari Lorong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-05-Mahmud-Suyuti.jpg)