Opini Mahmud Suyuti
Menyoal Pernyataan Jusuf Kalla: Kontroversial Makna Syahid dan Mati Konyol
Mati syahid itu, jika terjadi di medan jihad. Namun jika terjadi di medan konflik dengan alasan agama adalah mati konyol.
Oleh: Mahcmud Suyuti
Dosen Hadis UIM
TRIBUN-TIMUR.COM - JK, Jusuf Kalla dalam pekan terakhir ini menuai sorotan karena pernyataannya tentang mati syahid.
Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 itu saat ceramah Ramadan di masjid kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta (5/3) melontarkan opini bahwa definisi syahid dalam konsep Islam dan Kristen sama.
Menurut JK, Islam dan Kristen sependapat bahwa mati atau menewaskan orang atau mematikan yang tidak seagama adalah syahid.
Pernyataan JK sebulan lalu itu baru saat ini menjadi viral di medsos bersamaan dengan viralnya kritikan terhadap JK.
Membunuh Kristen bagi muslim adalah syahid.
Sebaliknya membunuh muslim bagi non-muslim adalah syahid dan pelakunya masuk surga.
Dengan pernyataan ini, maka sejumlah ormas dan lembaga keagamaan Kristen khususnya GAMKI, Gerakan Angkatan Muda Kristen justru telah melaporkan JK di Polda Metro Jaya (12/4) terkait dugaan penistaan agama.
Ketua Umum GAMKI, Sahat Sinurat dalam laporannya menyatakan bahwa agama Kristen tidak pernah mengajarkan membunuh orang Islam akan syahid masuk surga.
Agama Kristen mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia bahkan musuh sekalipun, tegas Sahat Sinurat.
Jihad: Jangan Mencari Musuh
Al-Qur’an memerintahkan untuk berperang, dan perang yang dimaksudkan adalah jihad.
Ditemukan pula hadis-hadis yang memerintahkan untuk berjihad, namun jihad yang dimaksud tidak identik teroris dengan iming-iming mati syahid yang pahalanya surga.
Nabi SAW bersabda “La tamannsuw liqa’al aduww” (HR. Bukhari/2621) yang artinya “Jangan kalian berharap-harap mencari musuh”.
Pelarangan mencari musuh dimaksudkan bila situasi aman di mana gerak dakwah Islamiyah tidak diperangi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-05-Mahmud-Suyuti.jpg)