Opini
Pepaya Busuk dan Tambang di PBNU Versi Amure
Konflik itu belum selesai sampai sekarang karena belum ditemukan benang merahnya, yang ada hanyalah benang ruwet.
Munculnya nama Bahlil di benang ruwet beralih ke benang kuning sebagai sinyal peringatan sebelum lampu berganti menjadi hijau atau merah.
Lampu kuning muncul setelah lampu hijau untuk memberi tahu pengendara bahwa lampu merah akan segera menyala dan mereka harus berhenti.
Sebaliknya, lampu kuning juga bisa muncul setelah lampu merah untuk menandakan pengendara bersiap untuk jalan.
Masalahnya di sini karena Amure terlanjur menvonis pepaya tumbuh di atas tambang nikel dan meneruskan gambar pepaya California warna kuning di grup WA Aswaja.
Berbeda dengan pepaya hijau yang masih keras dan hambar. Pepaya kuning berarti sudah matang, rasanya manis, teksturnya lembut dan siap dikonsumsi.
Hanya saja Amure memberi warning pada gambar pepaya berwarna kuning tersebut sembari berpesan “Jangan dipetik, Nak, biar membusuk, nanti jatuh sendiri seperti mereka di Jakarta”.
Amure kemudian berpantun, “pepaya bosok tanpa disodok tetap jatuh.”
Sekarang sudah terbukti, petinggi NU sudah jatuh satu persatu. Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Iful jatuh dari posisinya Sekjend PBNU.
Dulunya Mardani Maming memang telah jatuh dari kursi Bendahara PBNU, penggantinya adalah Gudfan Arif Ghofur sebagai penerus Maming juga telah jatuh digantikan oleh H Sumantri Suwarno sebagai bendahara umum PBNU yang baru.
Jatuh menjatuhkan di PBNU semakin menimbulkan konflik di PBNU sebab Yahya Cholil Staquf sebenarnya juga sudah jatuh, Yahya sudah dipecat.
Versi Rais Syuriah, Yahya tidak lagi berstatus sebagai Ketum PBNU terhitung mulai tanggal 26 November 2025 pukul 00.45 WIB.
Namun sampai sekarang (Jumat/05/12/2025) rupanya Yahya masih bertahan dan menurutnya tidak bisa jatuhkan oleh Syuriah.
Yahya mengatakan keputusan penjatuhan dirinya berupa pemecatan sebagai Ketua Umum PBNU tidak sah dan tidak dapat diterima.
Yahya menuturkan sampai saat ini pucuk kepemimpinan PBNU masih di bawah komandonya. Tegas Yahya dalam konferensi pers di Kantor PBNU (Rabu/3/12).
Filosofi Pepaya Busuk
| Katto Bokko: Meneropong Masa Depan Petani Muda Indonesia |
|
|---|
| Ketika Laki-laki Memilih Diam: Kerentanan Bunuh Diri dalam Perspektif Emile Durkheim |
|
|---|
| Padepokan Saung Taraju Jumantara dan Rapuhnya Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan |
|
|---|
| Kesadaran Kritis: Fondasi yang Lemah dalam Demokrasi Indonesia |
|
|---|
| Makassar Harus Menyelesaikan Sampahnya Sendiri, Dimulai dari Lorong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-05-Mahmud-Suyuti.jpg)