Opini
Sleep Training dan Bayi yang Tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan
Namun pagi datang dengan keheningan yang tidak biasa. Bayi itu tidak lagi terbangun.
Penulis: Dr. Elinda Rizkasari,.S.Pd.,M.Pd
Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta
SEBUAH kisah yang beredar di media sosial belakangan ini mengguncang banyak orang tua.
Seorang ibu membagikan pengalamannya menjalani sleep training sebuah metode yang populer di berbagai platform digital untuk melatih bayi tidur mandiri.
Malam itu, ia memutuskan mengikuti saran yang kerap ia dengar: membiarkan bayinya menangis dalam beberapa waktu agar “belajar menenangkan diri”.
Namun pagi datang dengan keheningan yang tidak biasa.
Bayi itu tidak lagi terbangun.
Tentu, kisah ini harus disikapi dengan kehati-hatian.
Tidak semua informasi viral dapat diverifikasi secara utuh, dan tidak etis menarik kesimpulan tunggal atas sebab kematian seorang bayi.
Akan tetapi, cerita ini telah menjadi alarm keras bagi banyak orang tua bahwa praktik parenting yang tampak sederhana di layar gawai, dapat membawa konsekuensi serius jika disalahpahami.
Tren Global yang Disalahpahami
Sleep training bukanlah konsep yang sepenuhnya baru.
Di sejumlah negara, metode ini telah digunakan untuk membantu bayi memiliki pola tidur yang lebih teratur.
Beberapa teknik bahkan telah diteliti dalam jurnal ilmiah dan menunjukkan manfaat tertentu, terutama dalam meningkatkan durasi tidur bayi dan mengurangi kelelahan orang tua.
Namun, manfaat tersebut tidak berdiri tanpa syarat.
Berbagai penelitian menegaskan bahwa praktik ini hanya direkomendasikan pada usia tertentu, dengan kondisi kesehatan bayi yang stabil, serta dilakukan secara bertahap dan tetap responsif terhadap kebutuhan anak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/TRIBUN-OPINI-Dr-Elinda-RizkasariSPdMPd-Dosen-prodi-PGSD-Unisri-Surakarta.jpg)