Opini
Pendidikan Tinggi, Apresiasi Rendah: Ironi Profesi Bidan di Indonesia
ribuan perempuan Indonesia mengabdikan diri menempuh pendidikan kebidanan yang semakin menuntut profesionalisme tinggi.
Oleh Jusrawati,S.ST.,M.Keb
(Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gunung Sari)
TRIBUN-TIMUR.COM- Setiap tahun, ribuan perempuan Indonesia mengabdikan diri menempuh pendidikan kebidanan yang semakin menuntut profesionalisme tinggi.
Tak lagi cukup dengan gelar diploma, pemerintah saat ini mendorong para bidan untuk melanjutkan ke jenjang sarjana dan pendidikan profesi, terutama bagi mereka yang menjalankan praktik mandiri.
Dalam prosesnya, Mereka belajar ilmu klinis, etik, komunikasi, dan teknologi kesehatan, sembari menjalani praktik yang melelahkan di puskesmas maupun rumah sakit.
Namun ironinya, setelah lulus banyak dari mereka dihadapkan pada realitas pahit: sistem kerja yang belum menjamin kesejahteraan.
Bergaji di bawah standar, bekerja tanpa perlindungan yang memadai, dan jauh dari penghargaan yang layak.
Pertanyaannya: sepadankah pengorbanan pendidikan itu dengan benefit yang diterima?
Profesi bidan memiliki kontribusi yang sangat vital dalam sistem kesehatan Indonesia.
Sebagai ujung tombak layanan kesehatan ibu dan anak, bidan bukan hanya membantu proses kehamilan dan persalinan.
Mereka hadir dalam berbagai fase kehidupan sejak masa prakonsepsi, kehamilan, persalinan, nifas, hingga perawatan bayi.
Di banyak. Mereka hadir di desa-desa, pelosok, bahkan daerah tanpa fasilitas kesehatan memadai.
Tak jarang, bidan menjadi satu-satunya tenaga kesehatan yang tersedia di komunitas tersebut.
Namun, apresiasi yang diterima sering kali tidak mencerminkan peran besar yang mereka emban.
Banyak bidan di Indonesia yang bekerja dengan status tidak tetap sebagai tenaga honorer atau sukarelawan di Puskesmas dan klinik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Jusrawati-kebidanan.jpg)