Opini
Zero Tong: Ketika Sekolah Tidak Lagi Membutuhkan Tempat Sampah
Ia mengubah wajah SDN 002 Samarinda menjadi ruang belajar yang bersih, bukan karena banyaknya tempat sampah, tetapi justru
Abd Majid Hr Lagu
Dosen UIN Alauddin Makassar
SAYA ingin memulai tulisan ini dengan sebuah kalimat sederhana yang diam-diam revolusioner: “Buanglah sampah dengan tongnya.”
Kalimat ini bukan sekadar slogan.
Ia adalah titik balik.
Ia mengubah wajah SDN 002 Samarinda menjadi ruang belajar yang bersih, bukan karena banyaknya tempat sampah, tetapi justru karena tidak adanya sampah.
Di sekolah ini, setiap anak dididik untuk tidak menghasilkan sampah.
Mereka tidak membawa makanan berkemasan plastik, tidak membeli jajanan sekali pakai, dan tidak bergantung pada fasilitas tempat sampah.
Jika pun ada sampah yang terlanjur dihasilkan, maka ada satu aturan tegas: sampah itu harus dibawa pulang.
Pada awalnya, kebijakan ini terasa berat.
Tidak mudah mengubah kebiasaan yang selama ini menganggap tempat sampah sebagai solusi akhir.
Namun, komitmen bersama perlahan membentuk kebiasaan baru.
Anak-anak mulai membawa tumbler sendiri, kotak makan dari rumah, dan secara sadar memilih untuk tidak menciptakan sampah sejak awal.
Di titik inilah terjadi pergeseran paradigma.
Selama ini, kita bangga dengan konsep memilah sampah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Dosen-UIN-Alauddin-Makassar-Abd-Majid-Hr-Lagu-1-2522026.jpg)