Opini
Memperjuangkan Asesmen Nasional Pendidikan yang Berkelanjutan
Indonesia seringkali mengganti bentuk ujian, tetapi belum benar-benar serius membangun ekosistem asesmen yang matang.
Oleh: Muhammad Suryadi R
Direktur Eksekutif Parametric Development Center
TRIBUN-TIMUR.COM - Di hari lahir pendidikan yang kesekian kalinya, kita merayakan pendidikan dengan sistem asesmen yang terus berganti.
Dalam dua dekade terakhir, publik kita menyaksikan perubahan kebijakan asesmen yang cukup cepat, yakni dari Ujian Nasional ke ANBK, dan lalu hadir Tes Kompetensi Akademik.
Semua perubahan yang dicanangkan selalu menitip harapan besar untuk perbaikan mutu pendidikan.
Tetapi, pertanyaan mendasarnya adalah mengapa pergantian instrumen terus dilakukan, sementara kualitas pendidikan nasional belum juga menunjukkan lompatan signifikan?
Di sini, masalah utamanya bukan pada jenis tes yang digunakan, tetapi belum hadirnya sistem asesmen nasional yang stabil, konsisten, dan berorientasi pada jangka panjang.
Indonesia seringkali mengganti bentuk ujian, tetapi belum benar-benar serius membangun ekosistem asesmen yang matang.
Sehingga, kebijakan yang lahir cenderung reaktif, tidak visioner.
Baca juga: Indeks Pendidikan dan Jebakan Produktivitas Rendah
Terjebak Budaya Nilai
Secara historis, asesmen di Indonesia lebih sering dipahami sebagai alat seleksi daripada alat belajar.
Nilai diposisikan sebagai penentu utama.
Siapa naik kelas, siapa lulus, siapa masuk sekolah favorit, dan siapa dianggap pintar.
Budaya ini membentuk perilaku dan mempengaruhi ekosistem pendidikan.
Siswa belajar demi angka, guru mengajar demi hasil ujian, sementara orang tua menilai keberhasilan anak dari ranking.
Dalam situasi ini, asesmen kehilangan fungsi esensialnya, yakni sebagai sarana membaca kebutuhan belajar siswa untuk memperbaiki proses pembelajaran.
| Ketika Kampus Membiarkan Rokok Menemukan Rumahnya |
|
|---|
| Siswa SMA Islam Athirah Didorong Bikin Buku Antologi, Karya Tulis Ilmiah, Artikel |
|
|---|
| Ketika Tempat Penitipan Menjadi Tempat Ketakutan: Alarm Krisis Pengasuhan Anak |
|
|---|
| Sa’i Hybrid: Ketika Ibadah Bertemu Fleksibilitas dan Kepedulian Sosial |
|
|---|
| Swasembada Pangan Benteng Utama Ketahanan Negeri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-11-18-Muhammad-Suryadi-R-Peneliti-Parametric-Development-Center.jpg)