Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Indeks Pendidikan dan Jebakan Produktivitas Rendah

IPM, meski bukan satu-satunya ukuran, adalah cermin paling jujur dari kondisi kapasitas itu.

Tayang:
Ist
OPINI - Setiawan Aswad Pemerhati Kebijakan Publik 

Oleh: Setiawan Aswad
Pemerhati Kebijakan Publik

TRIBUN-TIMUR.COM - Sebuah pelajaran pahit dari kisah pembangunan: angka yang baik di kertas tidak selalu berarti kehidupan yang baik di lapangan.

Indonesia mencatatkan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 75,90 tahun 2025 — kategori “tinggi” menurut standar UNDP.

Namun di balik angka itu, tersimpan kenyataan yang harus dipikirkan lebih dalam: bangsa ini masih terjebak dalam lingkaran produktivitas rendah yang telah berlangsung selama beberapa generasi.

Jebakan ini bukan sekadar masalah ekonomi makro. Ia adalah kondisi kapasitas manusia sebuah bangsa — kemampuan berpikir, bekerja, berinovasi, dan menciptakan nilai — belum berkembang secepat yang dibutuhkan untuk keluar dari kemiskinan.

IPM, meski bukan satu-satunya ukuran, adalah cermin paling jujur dari kondisi kapasitas itu.

Masalahnya, cermin ini masih menampilkan gambar yang buram.

IPM Indonesia memang naik konsisten, dari 71,94 pada 2020 menjadi 75,90 pada 2025 — pertumbuhan yang nyata. Walau secara agregat nasional menyimpan jurang cukup dalam: IPM Papua Pegunungan hanya 54,91, sementara DKI Jakarta mencapai 85,05 — selisih 30 poin yang mencerminkan dua realitas dalam satu negara.

Yang perlu ditelisik dari kenaikan IPM di atas: apa yang mendorong kenaikan itu?

Nyatanya pertumbuhan IPM cenderung digerakkan oleh peningkatan dimensi pengeluaran per kapita — yang mencerminkan konsumsi, bukan kapasitas produktif.

Dimensi pendidikan, misalnya — rata-rata lama sekolah hanya naik 0,22 tahun per tahun — bergerak lambat.

Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk dewasa baru menyentuh 9,07 tahun, setara tamat SMP kelas tiga (BPS, 2025).

Di atas fondasi ini, Indonesia berambisi menjadi negara maju pada 2045 dengan RLS sudah wajib tuntas pada level pendidikan menengah (12 tahun).

Hal krusial yang sering diabaikan dalam analisis kebijakan publik adalah peningkatan IPM tidak selalu berarti keluar dari jebakan produktivitas.

Sebuah bangsa bisa memiliki IPM yang terus naik — karena orang hidup lebih lama dan lebih banyak yang sekolah — tetap terjebak jika kualitas di balik angka-angka itu tidak meningkat secara substantif.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved