Opini
Zonasi vs Sekolah Unggulan: Adil Tak Harus Sama Rata
Dalam beberapa tahun terakhir, narasi besar pendidikan kita penghapusan sekat “sekolah favorit” melalui sistem zonasi.
Oleh: Nur Laely Basir, M.Ed. (TESOL – Int.)
TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam beberapa tahun terakhir, narasi besar pendidikan kita penghapusan sekat “sekolah favorit” melalui sistem zonasi.
Tujuannya mulia: pemerataan akses.
Namun, di tengah hiruk-pikuk zonasi, muncul pertanyaan kritis di benak masyarakat: “Jika semua sekolah sudah sama, mengapa pemerintah masih mempertahankan sekolah khusus seperti MAN Insan Cendekia atau SMAN Unggulan MH Thamrin, bahkan ada lagi Sekolah Garuda?”
Sekilas, seperti standar ganda.
Namun, jika diselami lebih dalam ke perspektif hak belajar anak, keberadaan sekolah-sekolah ini bukan tentang privilege, melainkan tentang pemenuhan kebutuhan khusus bagi anak-anak Cerdas Istimewa dan Bakat Istimewa (CIBI).
Keadilan Bukan Berarti Kesamarataan
Kita sering terjebak pada definisi bahwa adil berarti semua orang mendapatkan perlakuan yang sama persis (Equality).
Padahal, keadilan yang hakiki prinsipnya memberikan apa yang dibutuhkan sesuai dengan kapasitasnya (Equity).
Sama halnya dengan anak-anak disabilitas yang membutuhkan Sekolah Luar Biasa (SLB) karena kondisi fisik atau mentalnya, anak-anak CIBI juga memiliki “kebutuhan khusus”.
Mereka memiliki kecepatan belajar yang jauh melampaui rata-rata.
Menempatkan anak yang mampu berlari secepat kilat di lintasan jalan raya yang macet bukan hanya akan menghambat mereka, tapi juga bisa mematikan potensi besar yang mereka miliki.
Risiko “Underachievement” di Kelas Reguler
Secara pedagogis, memaksa anak berpikiran sangat cepat untuk duduk di kelas reguler yang mengikuti ritme belajar umum bisa berdampak fatal.
Tanpa tantangan yang sepadan, anak-anak ini seringkali mengalami kebosanan kronis (boredom).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Nur-Laely-Basir-08052025.jpg)