Opini
Makassar, Kota yang Kehilangan Rasa Aman
Dalam banyak tindak kejahatan, setidaknya masih ada motif yang dapat ditelusuri—ekonomi, dendam, atau konflik tertentu.
Oleh: Syahrul Gunawan
Advokat/Mahasiswa Doktoral UMI
TRIBUN-TIMUR.COM - Ada sesuatu yang perlahan hilang dari Kota Makassar, dan hilangnya tidak tampak oleh mata, tetapi terasa jelas di dada setiap warganya: rasa aman.
Kota yang selama ini dikenal hidup hingga larut malam, kota yang denyut ekonominya nyaris tidak pernah benar-benar tidur, kini justru memaksa masyarakatnya pulang lebih cepat, menoleh lebih sering, dan menyimpan cemas setiap kali mendengar deru knalpot yang datang bergerombol.
Jalanan yang seharusnya menjadi ruang publik bersama perlahan berubah menjadi ruang ancaman, tempat keselamatan dapat runtuh hanya karena seseorang berada di waktu dan tempat yang salah.
Kekhawatiran itu bukan sekadar asumsi, melainkan kenyataan yang berulang.
Masih sangat segar dalam ingatan bagaimana pada Jumat dini hari, 1 Mei 2026, seorang pengendara motor di Jalan Pongtiku, Kecamatan Bontoala, diburu oleh sekelompok geng motor saat sedang berboncengan bersama rekannya.
Tanpa persoalan pribadi, tanpa pemicu yang jelas, gerombolan tersebut berbalik arah, mengejar korban, lalu salah satu pelaku menebaskan senjata tajam ke kepala korban hingga tersungkur di aspal.
Tubuh korban bahkan sempat terlindas motor para pelaku sebelum warga datang menolong.
Empat pelaku memang berhasil diamankan aparat kepolisian, namun luka yang ditinggalkan tidak berhenti pada tubuh korban semata; ia meninggalkan trauma, kemarahan, sekaligus pertanyaan besar tentang seberapa murah keselamatan warga di jalanan kota ini.
Peristiwa di Jalan Pongtiku itu bukanlah satu-satunya. Ia hanya merupakan sebagian kecil dari sekian banyak kejadian tragis yang belakangan terus menghantui Kota Makassar—pembusuran acak, pengeroyokan, penyerangan pengendara, hingga tawuran jalanan yang nyaris saban pekan mengisi ruang pemberitaan.
Rentetan kejadian ini tentu tidak boleh dibiarkan terjadi terus-menerus, sebab setiap pembiaran hanya akan mempertebal keberanian pelaku dan memperdalam ketakutan masyarakat yang setiap hari menggunakan jalan sebagai bagian dari hidupnya.
Makassar hari ini sedang dipaksa hidup berdampingan dengan kekerasan yang tidak rasional.
Dalam banyak tindak kejahatan, setidaknya masih ada motif yang dapat ditelusuri—ekonomi, dendam, atau konflik tertentu.
Namun pada geng motor, kekerasan justru kehilangan logika.
Korban diserang hanya karena melintas.
| Memperjuangkan Asesmen Nasional Pendidikan yang Berkelanjutan |
|
|---|
| Indeks Pendidikan dan Jebakan Produktivitas Rendah |
|
|---|
| Ketika Kampus Membiarkan Rokok Menemukan Rumahnya |
|
|---|
| Siswa SMA Islam Athirah Didorong Bikin Buku Antologi, Karya Tulis Ilmiah, Artikel |
|
|---|
| Ketika Tempat Penitipan Menjadi Tempat Ketakutan: Alarm Krisis Pengasuhan Anak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Syahrul-Gunawan-07052026.jpg)