Opini
Pentas Teater 'Monolog Belanja Citra' dan Kabar Pekerja Teater di Sinjai
Yah, Dwi Lestari Johan selaku aktris tunggal pada pementasan ini mampu “meneror” penonton dengan suasana hening yang ia ciptakan.
Ini bisa dibuktikan dengan sepinya panggung-panggung pertunjukan teater berkelas yang dihelat oleh komunitas seni.
Di samping itu, peran pemerintah setempat dalam memberi ruang bagi pekerja seni pada umumnya, dan penikmat teater pada khususnya, sangatlah minim.
Indikator itu bisa terlihat dengan tidak tersedianya ruang-ruang publik yang bisa diakses oleh para pekerja seni secara gratis untuk berlatih.
Semisal ruang publik Lapangan Nasional dan Lapangan Sinjai Bersatu saja tidak bisa diakses secara gratis.
Begitu pelaku seni berlatih di sana, maka kantor dinas tertentu yang telah ditunjuk langsung oleh pemerintah, mengirim orangnya untuk menagih retribusi.
Belum lagi dengan tidak tersedianya gedung pementasan yang bonafit dan memenuhi standar pertunjukan seni yang ideal.
Maka wajar saja jika rombongan “Monolog Belanja Citra” yang didanai oleh Kementerian, Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Dana Indonesiana, dan LPDP serta didukung oleh Kala Teater, Aruwa Studio, Meditatif Films, Toko Tepi Jalan, dan Sanggar Sipakainge’ harus menyewa Aula Wisma Hawai Sinjai sebagai tempat pementasan.
Notabenenya gedung dan panggung tersebut tidak memenuhi standar sebagai gedung pementasan teater.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abidin-Wakur-Penyair-Seniman-dan-Pendiri-Komunitas-Tobonga.jpg)