Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Pentas Teater 'Monolog Belanja Citra' dan Kabar Pekerja Teater di Sinjai

Yah, Dwi Lestari Johan selaku aktris tunggal pada pementasan ini mampu “meneror” penonton dengan suasana hening yang ia ciptakan.

Editor: Sudirman
Ist
Abidin Wakur, Penyair, Seniman, dan Pendiri Komunitas Tobonga 

Abidin Wakur

Penyair, Seniman, dan Pendiri Komunitas Tobonga

Panggung pementasan langsung hening, begitu adanya pengumuman kalau acara dimulai.

Bahkan suasana panggung masih juga menjadi hening hingga sekitar lima menit awal ketika pentas monolog itu dimulai.

Yah, Dwi Lestari Johan selaku aktris tunggal pada pementasan ini mampu “meneror” penonton dengan suasana hening yang ia ciptakan.

Di sana ia hanya terlihat samar-samar oleh lampu yang redup dan juga tanpa iringan musik.

Sang aktor duduk di kursi yang membelakangi penonton, sambil tanpa henti mengepulkan asap dari rokok yang ia hisap.

Dari adegan opening sangat hening itu, sudah tertangkap oleh penonton tentang masalah berat yang dihadapi oleh aktris.

Ditambah lagi saat ia memutar kursinya menghadap ke penonton dan masih juga asik dengan kepulan asap rokoknya.

Lalu tiba-tiba ia menggiring penonton sebagai “hakim” dengan pertanyaan, “Ada apa? Apa ada yang salah? Kenapa Kalian memandang saya?.....”

Adegan selanjutnya oleh aktris yang mampu memerankan beberapa peran sekaligus, menggugat tentang uang panaik.

Uang panaik memang telah menjadi teror bagi muda-mudi Suku Bugis dan Makassar hingga kini.

Betapa tidak, budaya itu telah menggeser tentang sakralitas pernikahan menjadi sebuah gengsi, hura-hura dan citra bagi masyarakat Bugis dan Makassar.

Tentu monolog “Belanja Citra” adalah karya yang kesekian kalinya diangkat dalam ekspresi seni dan tak pernah ada habisnya.

Budaya uang panaik ini, tentu saja telah menginspirasi banyak seniman untuk mengangkatnya ke dalam berbagai karya berupa film, cerpen, novel, teater, dan lain-lain.

Dari semua karya itu, tentu semuanya menjadi kritikan, atas budaya kita yang “sakit” itu.

Dengan melalui tokoh Andi Bunga dan Puang Masri yang diperankan oleh sang aktris sekaligus, mampu menggugah sifat kritis para penonton yang didominasi oleh para mahasiswa dan rata-rata masih lajang.

Tentu saja dengan suguhan monolog tentang uang panaik itu, langsung menyadarkan tentang realitas kehidupan yang akan mereka hadapi nantinya saat akan berumah tangga.

Yah, suguhan monolog dengan tata panggung berupa meja besar yang dipenuhi buku, dipermanis dengan lampu kamar berwarna merah, musik dan tata cahaya yang minimalis, tidak lagi menjadi perhatian penonton.

Entah memang karena sudah terlarut ke dalam cerita, atau memang karena pengetahuan dasar mereka tentang pertunjukan teater yang sangat minim. Entahlah!

Penulis memang sangat berharap saat dibuka ruang diskusi yang dipandu oleh Adriansyah agar diskusi lebih fokus pada proses kreativitas atau tentang konsep kekaryaan dari naskah ini.

Namun apa boleh buat, para penanya dari audiens hanya sampai pada persoalan uang panaik saja.

Padahal ini tentu menjadi kesempatan untuk mentransfer ilmu teater dari sumbernya langsung.

Betapa tidak, mereka yang berada di belakang layar “Belanja Citra” adalah orang-orang yang punya nama dalam percaturan teater di Sulawesi Selatan.

Sebutlah Arman Dewarti selaku sutradara adalah aktor dan sutradara senior di bidang teater, sekalipun akhir-akhir ini lebih banyak berkecimpung di dunia film.

Begitu pula dengan nama Shinta Febriany sebagai dramaturg, adalah sutradara, aktor handal, penyair, dan pendiri dari Kala Teater Makassar.

Tentu mereka adalah para pihak yang bisa dijadikan sebagai ladang untuk memanen berbagai ilmu tentang seni teater.

Akhirnya Dwi Lestari Johan sebagai aktor dari “Belanja Citra” dan Nurul Iffah sebagai narasumber diskusi hanya sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan  para audiens tentang uang panaik semata sebagai isu budaya yang meneror muda-mudi, bukan sebagai buah kreativitas di atas panggung.

Tentu saja realitas di atas tak lepas pula dari iklim berteater di Sinjai yang masih minim jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Sulawesi Selatan ini.

Ketertarikan para pekerja seni tentang seni teater di daerah ini memang sangatlah sepi.

Ini bisa dibuktikan dengan sepinya panggung-panggung pertunjukan teater berkelas yang dihelat oleh komunitas seni.

Di samping itu, peran pemerintah setempat dalam  memberi ruang bagi pekerja seni pada umumnya, dan penikmat teater pada khususnya, sangatlah minim.

Indikator itu bisa terlihat dengan tidak tersedianya ruang-ruang publik yang bisa diakses oleh para pekerja seni secara gratis untuk berlatih.

Semisal ruang publik Lapangan Nasional dan Lapangan Sinjai Bersatu saja tidak bisa diakses secara gratis.

Begitu pelaku seni berlatih di sana, maka kantor dinas tertentu yang telah ditunjuk langsung oleh pemerintah, mengirim orangnya untuk menagih retribusi.

Belum lagi dengan tidak tersedianya gedung pementasan yang bonafit dan memenuhi standar pertunjukan seni yang ideal.

Maka wajar saja jika rombongan “Monolog Belanja Citra” yang didanai oleh Kementerian, Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Dana Indonesiana, dan LPDP serta didukung oleh Kala Teater, Aruwa Studio, Meditatif Films, Toko Tepi Jalan, dan Sanggar Sipakainge’ harus menyewa Aula Wisma Hawai Sinjai sebagai tempat pementasan.

Notabenenya gedung dan panggung tersebut tidak memenuhi standar sebagai gedung pementasan teater.

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved