Opini
Pentas Teater 'Monolog Belanja Citra' dan Kabar Pekerja Teater di Sinjai
Yah, Dwi Lestari Johan selaku aktris tunggal pada pementasan ini mampu “meneror” penonton dengan suasana hening yang ia ciptakan.
Dari semua karya itu, tentu semuanya menjadi kritikan, atas budaya kita yang “sakit” itu.
Dengan melalui tokoh Andi Bunga dan Puang Masri yang diperankan oleh sang aktris sekaligus, mampu menggugah sifat kritis para penonton yang didominasi oleh para mahasiswa dan rata-rata masih lajang.
Tentu saja dengan suguhan monolog tentang uang panaik itu, langsung menyadarkan tentang realitas kehidupan yang akan mereka hadapi nantinya saat akan berumah tangga.
Yah, suguhan monolog dengan tata panggung berupa meja besar yang dipenuhi buku, dipermanis dengan lampu kamar berwarna merah, musik dan tata cahaya yang minimalis, tidak lagi menjadi perhatian penonton.
Entah memang karena sudah terlarut ke dalam cerita, atau memang karena pengetahuan dasar mereka tentang pertunjukan teater yang sangat minim. Entahlah!
Penulis memang sangat berharap saat dibuka ruang diskusi yang dipandu oleh Adriansyah agar diskusi lebih fokus pada proses kreativitas atau tentang konsep kekaryaan dari naskah ini.
Namun apa boleh buat, para penanya dari audiens hanya sampai pada persoalan uang panaik saja.
Padahal ini tentu menjadi kesempatan untuk mentransfer ilmu teater dari sumbernya langsung.
Betapa tidak, mereka yang berada di belakang layar “Belanja Citra” adalah orang-orang yang punya nama dalam percaturan teater di Sulawesi Selatan.
Sebutlah Arman Dewarti selaku sutradara adalah aktor dan sutradara senior di bidang teater, sekalipun akhir-akhir ini lebih banyak berkecimpung di dunia film.
Begitu pula dengan nama Shinta Febriany sebagai dramaturg, adalah sutradara, aktor handal, penyair, dan pendiri dari Kala Teater Makassar.
Tentu mereka adalah para pihak yang bisa dijadikan sebagai ladang untuk memanen berbagai ilmu tentang seni teater.
Akhirnya Dwi Lestari Johan sebagai aktor dari “Belanja Citra” dan Nurul Iffah sebagai narasumber diskusi hanya sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan para audiens tentang uang panaik semata sebagai isu budaya yang meneror muda-mudi, bukan sebagai buah kreativitas di atas panggung.
Tentu saja realitas di atas tak lepas pula dari iklim berteater di Sinjai yang masih minim jika dibandingkan dengan kabupaten lain di Sulawesi Selatan ini.
Ketertarikan para pekerja seni tentang seni teater di daerah ini memang sangatlah sepi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Abidin-Wakur-Penyair-Seniman-dan-Pendiri-Komunitas-Tobonga.jpg)