Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Endang Sari

Politik Identitas pada Konflik Iran–Israel–Amerika

Kebutuhan manusia akan pengakuan menjadi salah satu pendorong utama konflik modern.

Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Endang Sari Dosen Ilmu Politik FISIP Unhas 

Oleh: Endang Sari
Dosen Ilmu Politik FISIP Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Francis Fukuyama dalam bukunya “Identity: The Demand for Dignity and the Politics of Resentment “ (2018), telah menyebutkan bahwa “Demand for recognition of one’s identity is a master concept that unifies much of what is going on in world politics today”.

Kebutuhan manusia akan pengakuan menjadi salah satu pendorong utama konflik modern.

Dengan logika itu, kita dapat melihat bahwa perang antara Iran, Israel, dan Amerika bukan hanya soal senjata dan energi, melainkan juga soal eksistensi dan legitimasi identitas masing-masing.

Iran memandang dirinya sebagai pelindung umat Syiah dan oposisi terhadap hegemoni Barat.

Politik luar negeri Iran tidak hanya berorientasi pada kepentingan strategis, tetapi juga misi ideologis yang berakar pada identitas keagamaan.

Dukungan terhadap kelompok seperti Hizbullah di Lebanon atau milisi di Irak adalah bagian dari narasi resistensi yang menolak dominasi Amerika dan Israel.

Bagi Iran, konflik ini adalah perjuangan eksistensial untuk mempertahankan martabat dan pengakuan atas identitas Syiah yang sering kali dipandang inferior dalam arena politik global.

Ketika Barat menekan Iran melalui sanksi atau intervensi, yang dipertaruhkan bukan hanya ekonomi, melainkan juga harga diri nasional.

Israel, di sisi lain, mendasarkan legitimasi negara pada identitas Yahudi yang berakar pada sejarah panjang diaspora dan trauma Holocaust.

Ancaman dari Iran dipandang bukan sekadar ancaman militer, tetapi juga ancaman terhadap eksistensi identitas nasional.

Politik keamanan Israel berakar pada pengalaman sejarah yang penuh luka, sehingga survival menjadi prioritas utama.

Dalam logika Fukuyama, Israel menuntut pengakuan atas hak eksistensinya sebagai negara Yahudi di tengah lingkungan yang sering kali memusuhinya.

Ketika Iran menolak legitimasi Israel, yang ditolak bukan hanya sebuah negara, melainkan juga identitas kolektif yang menjadi dasar keberadaan bangsa Yahudi.

Amerika Serikat membawa identitas liberal-demokratis yang dianggap sebagai nilai universal.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved