Opini
Waste-to-Energy
Luksemburg adalah negara dengan pengelolaan sampah terbaik di dunia hingga sekarang.
Oleh: Andi Iqbal Burhanuddin
Dosen Fakultas Kelautan Unhas
TRIBUN-TIMUR.COM - Pengelolaan sampah yang efisien adalah tantangan besar bagi banyak negara, namun beberapa negara telah berhasil menciptakan sistem yang efektif dan berkelanjutan.
Luksemburg adalah negara dengan pengelolaan sampah terbaik di dunia hingga sekarang.
Berdasarkan data dari Yale University, penilaian pengelolaan sampah tersebut dilakukan terhadap 180 negara di dunia.
Penilaian ini didasarkan kepada tiga indikator, yakni limbah padat yang terkendali, tingkat daur ulang, dan polusi plastik di laut.
Negara maju lainnya seperti Swedia, Jerman, Belanda, dan Singapura dengan penerapan teknologi mutakhir, program edukasi masyarakat yang berprinsip zero-waste system dan sinergi antara pemerintah, industri, serta kepatuhan warga dalam memilah sampah dari sumbernya memberikan contoh yang patut diikuti dalam upaya menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Produksi sampah di Indonesia, menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Data dari Sistem Pengelolaan Sampah Nasional (SPSN) Kementerian Lingkungan Hidup bahwa pada tahun 2023, produksi sampah mencapai 68,7 juta ton per tahun, sebagian besar berasal dari sampah organik rumah tangga.
Kemudian sepanjang tahun 2025, per 17 April 2025 tercatat ada 33,621 juta ton.
59,9 persen ton merupakan sampah terkelola, sementara sisanya sebanyak 13,6 juta ton atau 40,1 persen adalah sampah yang tidak terkelola yang dapat mencemari lingkungan.
Penumpukan sampah yang terjadi di banyak tempat merupakan akumulasi dari ketidakmampuan pemerintah dan berbagai pihak terkait untuk berpikir secara sistemik dan sistematis.
Belum lagi sampah plastik semakin tak terbendung menyerbu laut Indonesia.
Setiap tahunnya, sedikitnya 8 juta ton sampah plastik dibuang ke laut dan lebih dari 70 persen adalah sampah yang berasal dari aktivitas manusia di daratan.
Jutaan ton sampah yang diproduksi di Indonesia sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan menimbulkan masalah lingkungan, sosial, dan kesehatan.
Telah banyak wacana inisiatif dan analisis yang menyimpulkan bahwa masalah sampah adalah masalah tata kelola yang amburadul, tidak dipikirkan secara matang dengan rancangan yang komprehensif, sistemik, dan terkendali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2025-12-08-Andi-Iqbal-Burhanuddin.jpg)