Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Membaca Ulang Kritik terhadap Tempo: Antara Representasi Publik dan Tanggung Jawab Politik

Saya paham keresahan Arfi dan menganggapnya sebagai masukan penting dari seorang intelektual yang mencintai jurnalisme berkualitas. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ansar
Tribun-timur.com/X
TRIBUN OPINI - Wahyu Dhyatmika wartawan Tempo. 

CEO PT Info Media Digital (Tempo Digital) Wahyu Dhyatmika menanggapi tulisan opini Sekretaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia periode 2014-2017, Arfi Bambani Amri Opini Mantan Sekjen AJI, Tanggapi Riuh Elite Nasdem dan Laporan Utama TEMPO

Penulis: Wahyu Dhyatmika (wartawan Tempo)

SAYA membaca kritik Arfi Bambani Amri terhadap laporan terbaru Tempo soal Nasdem, dengan antusias.

Arfi kawan lama yang sama sama aktif di Aliansi Jurnalis Independen.

Saya paham keresahan Arfi dan menganggapnya sebagai masukan penting dari seorang intelektual yang mencintai jurnalisme berkualitas. 

Izinkan saya memberikan tanggapan.

Menurut saya, kritik terhadap laporan Tempo mengenai Surya Paloh dan Partai Nasdem perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas: bukan semata soal akurasi satu laporan jurnalistik, tetapi tentang bagaimana media merefleksikan kegelisahan publik terhadap kondisi demokrasi Indonesia saat ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, penurunan kualitas ruang sipil dan praktik demokrasi tidak bisa dilepaskan dari performa partai politik yang cenderung pragmatis, transaksional, dan minim kaderisasi.

Dalam lanskap seperti ini, media tidak hanya melaporkan fakta, tetapi juga menangkap sentimen publik yang semakin skeptis terhadap institusi politik.

Tempo, dalam hal ini, tidak berdiri di ruang hampa.

Laporan tersebut harus dibaca sebagai bagian dari refleksi atas kondisi struktural partai politik Indonesia yang memang jarang tampil sebagai penjaga nilai demokrasi.

Banyak partai lebih berfungsi sebagai kendaraan kekuasaan dan kepentingan ekonomi elite, dibandingkan sebagai institusi representasi publik yang sehat.

Dalam konteks ini, kritik terhadap Nasdem—meskipun dianggap mengabaikan idealisme pendirinya—sebenarnya mencerminkan standar publik yang semakin tinggi terhadap transparansi, akuntabilitas, dan regenerasi politik.

Jika Nasdem memang ingin diposisikan sebagai pengecualian dalam lanskap politik yang problematik, maka pembuktiannya tidak cukup melalui narasi atau klaim moral.

Yang dibutuhkan adalah langkah konkret: transparansi keuangan partai, mekanisme kaderisasi yang jelas, serta sistem suksesi kepemimpinan yang akuntabel.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved