Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Bachtiar Adnan Kusuma

Meluruskan Arah Gerakan Literasi Indonesia

Penulis juga mengingatkan bahwa kekuatan literasi tidak hanya terletak pada budaya membaca, tetapi juga pada keberanian menulis.

Tayang:
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Bachtiar Adnan Kusuma, Tokoh Literasi Nasional dan Penulis 

Prinsipnya “Tidak Digaji, Tetap Bergerak” menunjukkan bahwa perjuangan literasi lahir dari idealisme, ketulusan, dan keyakinan bahwa perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Akademi Literasi Nasional yang digagas Perpustakaan Nasional RI melalui Peraturan Perpustakaan Nasional Nomor 04 Tahun 2022 wajib didorong terus menerus agar menjadi ruang kolaborasi sesama aktivis literasi Indonesia yang jumlahnya sekira 15.000 orang, selain sebagai ajang memperjuangkan nasib para aktivis literasi, juga ajang kolaborasi dan sinergi sesama aktivis literasi.

Penulis menggerakkan Gerakan Nasional Satu Masjid Satu Perpustakaan atas kerjasama Pengurus Pusat IKA BKPRMI dan Perpustakaan Nasional yang telah diluncurkan pada Tgl 14 Mei 2022 di Auditorium Perpustakaan Nasional Jalan Merdeka Selatan, Jakarta.

Sebagai aktivis literasi yang telah lama mengabdikan diri di panggung literasi nasional, penulis memilih “Literasi adalah sebuah pilihan hidup, tidak mudah memang” menjadi penegasan bahwa perjuangan literasi bukan pekerjaan sesaat.

Ia adalah jalan panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk terus bergerak meski tantangan menghadang.

Apa yang disampaikan penulis sampaikan ini sejatinya bukan hanya sebuah materi diskusi, melainkan sebuah ajakan untuk bersama-sama mengambil peran.

Sebab masa depan bangsa yang cerdas tidak lahir dari banyaknya wacana, melainkan dari keberanian mengubah setiap diksi menjadi aksi nyata.

Kembali ke Buku

Siapa nyanah kalau bangsa yang termaju sistem pendidikannya di negara belahan Eropa Timur, Skandinavia ramai-ramai kembali ke Buku.

Finlandia boleh dibilang Negara pusat kiblat sistem pendidikannya termaju yang selama ini mengandalkan kekuatan buku berbasis digital, pada akhirnya menggelar “Gerakan Kembali ke Buku”.

Mengapa Finlandia memilih buku fisik daripada buku digital?

Dengan berbagai penelitian efek dari kemajuan teknologi informasi, termasuk gadget, rupanya selain memberikan efek dangkal dan pemiskinan perbendaharaan kata untuk komunikasi, juga berdampak pada mentalitas suburnya budaya instant bagi kaum muda.

Kemajuan teknologi digital, membuat anak-anak kita mengalami kejumudan berpikir, miskin inovasi dan pelemahan budaya literasi di kalangan siswa-siswi.

Dan, usaha membentuk budaya ekosistem literasi, sebaiknya berganti baju dari mindset tetap ke mindset bertumbuh.Kemajuan literasi tidak cukup hanya diukur dari panggung ke panggung, dari forum ke forum lainnya, melainkan haruslah menjadi gerakan bersama, tumbuh dan berkelanjutan.

Karena itu, kemajuan suatu bangsa atau daerah diukur sejauhmana kemajuan literasinya.

Karenanya, membentuk ekosistem literasi ibarat mengharapkan buah dari batang pohon yang sakit.

Sebaliknya, bukan buah segar yang dipetik berupa inovasi atas solutif bagi persoalan bangsa kita.

Kini, kita kembali ke Buku, karena hanya dengan membaca buku yang utuh, menjauhkan kita dari pergumulan pemikiran yang sempit.(*)

Sumber: Tribun Timur
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved