Opini Bachtiar Adnan Kusuma
Manusia Buku
Manusia buku adalah pribadi atau tokoh yang memiliki kepedulian tinggi atas tumbuhnya ekosistem perbukuan di Indonesia.
Manusia Buku: Catatan Menyambut Hari Buku Nasional
Oleh: Bachtiar Adnan Kusuma
Deklarator Nasional Asosiasi Penulis Profesional Indonesia Pusat
TRIBUN-TIMUR.COM - Siapakah yang paling berbahagia menyambut Hari Buku Nasional (HBN), pada 17 Mei 2026 setiap tahun? Jawabannya adalah penulis.
Selain Tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional (HBN), juga hari pertamakali penulis mengikrarkan diri memilih Buku sebagai pilhan hidupnya yaitu pada 17 Mei 1995 ditandai dengan penulis menggagas salah satu lembaga penerbitan buku di Makassar dan Jakarta.
Menariknya karena di Hari Buku Nasional juga hari pertamakali penulis meminang istri tercinta dan Ulang Tahun perkawinan kami berdua dengan istri Ani Kaimuddin Mahmud( Alumni Ponpes DDI Mangkoso, 1998-1995).
Lalu, siapakah Manusia Buku itu?
Manusia buku adalah pribadi atau tokoh yang memiliki kepedulian tinggi atas tumbuhnya ekosistem perbukuan di Indonesia.
Sebagian besar mereka selain memiliki kepedulian tinggi atas tumbuhnya budaya membaca dan budaya menulis di tanah air, ia juga telah menjadi figur sentral yang patut diguguh dan ditiru atas perhatiannya bagi khasanah perbukuan Indonesia.
Mah, penulis jujur mengakui, Indonesia tak bisa dipungkiri sebagai bangsa yang belum gemar membaca dan masih saja berada di nomor urut sepatu jika dibandingkan minat baca negara-negara lainnya.
Sebagai bangsa yang jumlah penduduknya terbesar keempat di dunia, kita masih berada di urutan 12 dari 102 negara yang di surveri majalah Ceo Word dari 6,5 juta responden.
Posisi kebiasaan dan kemampuan membaca masih didominasi negara-negara maju seperti Amerika Serikat berada di posisi pertama dengan membaca 17 judul buku pertahun dengan durasi membaca 357 jam.
Sementara Indonesia hanya membaca 6 sampai 7 judul buku dengan durasi membaca 129 jam pertahun.
Karena itu, benarlah apa yang dikemukakan seniman Austria, Franz Kafka bahwa buku harus menjadi kampak untuk menghancurkan lautan beku dalam diri manusia.
Adapun lautan beku yang dimaksud Franz adalah kebodohan manusia.
Kebodohan manusia hanya mampu dihancurkan dengan membaca buku.
Bukankah hanya dengan membaca buku bisa menghancurkan kebodohan manusia?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-23-Bachtiar-Adnan-Kusuma-8.jpg)