Opini Bachtiar Adnan Kusuma
Meluruskan Arah Gerakan Literasi Indonesia
Penulis juga mengingatkan bahwa kekuatan literasi tidak hanya terletak pada budaya membaca, tetapi juga pada keberanian menulis.
Berbagai gerakan yang penulis gagas seperti Gerakan Guru dan Pustakawan Menulis Satu Buku Indonesia, Gerakan Satu Masjid Satu Perpustakaan, Gerakan Santri Menulis Buku, hingga dorongan agar birokrat dan politisi ikut serta membaca serta menulis buku, merupakan langkah konkret yang layak memeroleh dukungan bersama.
Intinya, perlu meluruskan mindset tentang literasi bahwa literasi tidak penting dan hanya tugas pemerintah, kini saatnya berpikir mindset bertumbuh (growth mindset).
Jangan hanya mendorong masyarakat membaca, tapi tidak mendorong gerakan menulis.
Keduanya harus sejurus.
Selain meluruskan paradigma buku sebagai barang mewah menjadi paradigma terjangkau, juga mengingatkan kembali penguatan ekosistem perbukuan nasional melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan.
Amanah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 sesungguhnya mempertegas pentingnya pengaturan tata kelola perbukuan nasional yang menyeluruh menjangkau mata rantai ekosistem buku mulai dari proses pemenuhan naskah, penerbitan, pencetakan, distribusi hingga pengawasan buku.
Potret wajah perbukuan nasional kita masih berada pada posisi darurat akses buku-buku bermutu.
Betapa tidak, buku baru terbit berdasarkan jumlah ISBN yang dikeluarkan Perpustakaan Nasional pada 2025 berjumlah 128.814 buku, sementara jumlah penduduk Indonesia berada di angka 288.315.089 juta jiwa.
Rasionya satu buku baru dibaca 2.446 orang.
Hal ini menunjukkan betapa kurangnya akses buku yang terbit di Indonesia.
Pertanyaannya, di manakah hubungan kolosal gerakan membaca dengan gerakan menulis?
Tidak bisa dipungkiri bahwa selama ini masih saja menerjemahkan gerakan membaca hanya sebatas dari panggung pesta ke panggung lainnya.
Padahal gerakan membaca yang selama ini digerakkan oleh Pemerintah dan para aktivis literasi seharusnya berhasil mendorong budaya menulis dan budaya membaca.
Makanya, penulis kembali mengigatkan agar strategi pembudayaan literasi sebaiknya direvolusi agar lebih masif dan terukur serta berkelanjutan.
Pada sisi lain, penulis kembali mengingatkan pentingnya semangat pengabdian yang terus menyala.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-02-23-Bachtiar-Adnan-Kusuma-8.jpg)