Opini
Aliran Sungai Kongo ke Piala Dunia 2026
Dari 16 peserta yang dibagi ke dalam empat grup, Zaire sekamar dengan Brasil, Yugoslavia, dan Skotlandia di Grup 2.
Oleh: F Daus AR
Bergiat di Rumah Saraung
TRIBUN-TIMUR.COM - 52 tahun silam di Piala Dunia 1974 di Jerman, satu-satunya tim dari Afrika diwakili oleh Zaire.
Dari 16 peserta yang dibagi ke dalam empat grup, Zaire sekamar dengan Brasil, Yugoslavia, dan Skotlandia di Grup 2.
Hasilnya, Yugoslavia, negara yang sudah hilang di peta dunia itu menyarankan sembilan gol tanpa balas.
Brasil tiga gol, Skotalndia 2 gol, semuanya tanpa balasan.
Zaire angkat koper tanpa poin.
Itu bukan kekecewaan, Zaire, skuad tetap bangga mewakili Afrika di pentas Piala Dunia.
Zaire tidak memikul beban, melancong ke Eropa adalah piknik.
Berlaga di Piala Dunia barangkali saja sekadar bonus.
Kali saja itulah yang ada di kepala para pemain.
Namun, kebalikannya tidaklah demikian, timnas Zaire berlaga dibawah tekanan pemerintahannya sendiri: kediktatoran militer.
Para pemain sejak awal ditipu dengan imingan bonus berupa mobil dan rumah.
Janji yang segera disadari oleh pemain kalau itu hanya bual belaka.
Konon, di dekade itu permainan Zaire tidaklah lazim, tim yang dijuluki Macan Tutul itu bergerak cepat selayak harfiahnya macan tutul di gurun sahara Afrika.
Pengamat dan penonton di Eropa segera saja melabelinya gaya bermain maverick, situasi di mana pemain secara individu bergerak lincah memeragakan trik pemecah kebuntuan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/F-Daus-AR-10062026.jpg)