Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini Bachtiar Adnan Kusuma

Meluruskan Arah Gerakan Literasi Indonesia

Penulis juga mengingatkan bahwa kekuatan literasi tidak hanya terletak pada budaya membaca, tetapi juga pada keberanian menulis.

Tayang:
Tribun-timur.com/Ist
OPINI - Bachtiar Adnan Kusuma, Tokoh Literasi Nasional dan Penulis 

Oleh: Bachtiar Adnan Kusuma
Tokoh Literasi Nasional dan Penulis

TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa waktu lalu, penulis diundang menjadi pembicara pamungkas di Forum Diklat Talenta Keempat yang digelar Gerakan Literasi Nasional Geraulis dengan tema” Wujudkan Generasi Cerdas Melalui Penguatan Literasi Masyarakat”.

Penulis didaulat menjadi pembicara kedua dengan Judul “Meluruskan Arah Gerakan Literasi Indonesia, Peran Aktivis Literasi di Tengah Darurat Akses Bacaan Bermutu” diikuti 401 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembangan Budaya Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Nurhadi Saputra, menjadi pembicara pertama dengan mengurai Peran Perpustakaan Nasional Dalam Penguatan Budaya Literasi di Indonesia.

Sebagai aktivis literasi yang telah melintas batas menggerakkan literasi di Indonesia dari satu asa ke asa berikutnya, penulis menyampaikan gagasan dan ide-ide tidak sekadar tentang literasi.

Lebih jauh lagi penulis menyampaikan seruan moral menghidupkan kembali semangat gerakan literasi Indonesia yang lebih nyata, membumi, dan berdampak.

Melalui pengalaman panjang sebagai aktivis literasi selama tiga puluh tahun, penulis kembali mengingatkan bahwa tantangan terbesar bangsa ini bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi juga masih terbatasnya akses masyarakat terhadap bahan bacaan yang bermutu.

Karenanya, sudah saatnya gerakan literasi tidak berhenti pada diskusi, seminar, atau slogan semata, melainkan bergerak menuju aksi nyata yang dirasakan langsung manfaatnya masyarakat.

Salah satu pesan penting yang sangat menggugah adalah perlunya mengubah cara pandang terhadap literasi.

Literasi tidak boleh diposisikan sebagai aktivitas eksklusif yang hanya dinikmati kalangan tertentu.

Literasi harus hadir sebagai kebutuhan primer dan menjadi bagian dari budaya masyarakat.

Literasi harus mampu menjangkau seluruh lapisan tanpa sekat sosial maupun ekonomi.

Penulis juga mengingatkan bahwa kekuatan literasi tidak hanya terletak pada budaya membaca, tetapi juga pada keberanian menulis.

Membaca dan menulis adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Bangsa yang maju apabila masyarakatnya tidak hanya gemar menyerap pengetahuan, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan dan karya yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved