Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ketika Bahasa Penguasa Kehilangan Empati

Setiap kali muncul kritik, respons yang sering terdengar adalah bahwa pernyataan tersebut dipotong dari konteks atau disalahartikan.

Tayang:
muh hasim
OPINI - Kasri Riswadi, Peneliti Bahasa 

Oleh: Kasri Riswadi
Peneliti Bahasa

TRIBUN-TIMUR.COM - Seorang profesor berusia sekitar enam puluh tahun memasuki sebuah bank di Makassar dengan wajah ceria.

Suasana itu berubah ketika seorang petugas keamanan menyapanya, “Bapak mau menarik uang pensiun?” Tidak ada kata-kata kasar dalam pertanyaan itu. Tidak ada pula niat buruk.

Namun sang profesor tampak tersinggung.

Masalahnya bukan terletak pada benar atau salahnya kata yang digunakan, melainkan pada makna yang diterima.

Bagi seorang akademisi yang masih aktif berkarya, kata “pensiun” dapat dimaknai sebagai penanda berakhirnya produktivitas dan peran sosial.

Dalam komunikasi, niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik.

Fenomena serupa juga kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang suami menyerahkan seluruh gajinya kepada sang istri, tetapi disertai omelan dan keluhan panjang.

Secara materi, sang istri menerima sesuatu yang berharga.

Namun secara emosional, ia justru menanggung ketidaknyamanan.

Tindakan baik kehilangan maknanya karena dibungkus oleh komunikasi yang buruk.

Dua ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa komunikasi bukan hanya soal apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana pesan diterima.

Pilihan kata, sensitivitas terhadap konteks, dan kemampuan memahami posisi lawan bicara sering kali menentukan keberhasilan sebuah komunikasi.

Ketika Bahasa Menjadi Kontroversi

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved