Opini
Depresiasi Rupiah dan Tantangan Riset di Perguruan Tinggi Kita
Di tengah tuntutan publikasi ilmiah dan inovasi akademik, depresiasi rupiah membuat aktivitas penelitian menjadi semakin mahal dan menantang.
Karena itu, ketika aktivitas penelitian terus menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kalangan akademik, tetapi juga dapat memengaruhi daya saing bangsa dalam jangka panjang.
Apalagi, Indonesia saat ini tengah mendorong transformasi digital dan penguatan inovasi nasional di berbagai sektor.
Tentu saja, upaya tersebut membutuhkan dukungan riset yang kuat, berkualitas, dan berkelanjutan.
Sulit membayangkan lahirnya inovasi yang kompetitif apabila para peneliti masih harus berhadapan dengan keterbatasan fasilitas serta meningkatnya biaya penelitian akibat tekanan nilai tukar rupiah.
Karena itu, depresiasi rupiah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai persoalan ekonomi makro semata.
Dampaknya terhadap dunia pendidikan tinggi dan ekosistem riset nasional juga perlu mendapatkan perhatian serius.
Dukungan pendanaan penelitian, penguatan infrastruktur laboratorium, serta kebijakan yang berpihak pada pengembangan ilmu pengetahuan menjadi penting agar perguruan tinggi tetap mampu menjaga produktivitas dan kualitas risetnya.
Di tengah tekanan ekonomi global, dunia akademik tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri menghadapi berbagai tantangan tersebut.
Perguruan tinggi adalah ruang lahirnya gagasan, inovasi, dan masa depan bangsa.
Karena itu, menjaga keberlangsungan riset di kampus sejatinya bukan hanya investasi pendidikan, melainkan investasi bagi kemajuan Indonesia di masa mendatang.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Baizul-Zaman-SKom-MT-Dosen-STMIK-Kharisma-Makassar-Pegiat-Media-Sosial.jpg)