Opini
Perilaku Komunikasi Bertema Lagu MBG
Tak tanggung lagi, anak-anak yang masih dibangku sekolah dasar, sangat heboh melantunkan lirik lagu sambil bermain.
Oleh: Hudzaifah Kadir, S.Ksi.,M.I.Kom
Praktisi Media & Wirausaha UMKM
TRIBUN-TIMUR.COM - Fenomena lirik lagu ‘My Litle Bolu Ketan’ yang boleh dikata makin viral, terus menjadi perbincangan diberbagai sektor wilayah pada interaksi komunikasi, tak sedikit bincang lagu ini berada dilingkungan perumahan, bahkan dikantor sekalipun menjadi santapan pagi, hingga merapat disudut sudut warung kopi.
Perilaku ini kini menjadi perhatian khusus, bagi sosok Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Bagi seorang Menteri, ia sangat kagum dengan kreativitas sang pecipta lirik lagu tersebut.
Bahkan netizen masih ramai membahasnya disejumlah platform media.
Tak tanggung lagi, anak-anak yang masih dibangku sekolah dasar, sangat heboh melantunkan lirik lagu sambil bermain.
Sejak viralnya lagu ini, kebutuhan dasar soal MBG (Makan Bergizi Gratis) diam seketika.
Bukan lagi bicara tentang keracunan, penyalahgunaan anggaran, hingga sidak dapur yang notabene masih buruk pelayanannya.
Dikutip beberapa portal media, Raffi Ahmad mendapatkan tugas penting untuk mencari tahu siapa pembuat lagu tersebut, dengan arahan sang Menteri ingin berjumpa dan hendak memberikan apresiasi kepada pembuat lagu.
Padahal, apa yang menjadi urgensi kepentingan tersebut, seolah rakyat ini harus kecanduan bernyanyi dulu, menyanyikan nada satire.
‘MBG’ alias Mas Bahlil Ganteng, ada ada saja penyebuatannya.
Pada tatanan komunikasi, kita memahami adanya perilaku sikap.
Menurut Hovland, perubahan sikap merupakan hasil dari komunikasi persuasif dalam rangka untuk mengubah keyakinan, perasaan, serta perilaku seseorang.
Ditengah situasi ini, Makan Bergizi Gratis (MBG) masih membutuhkan perhatian yang ekstra serius, bukan hanya menjadi peralihan sesaat.
Tanpa sadar atau disadari sekalipun, situasi Negara sedang berada pada pola perilaku menyanyi, seolah rakyat akan kenyang dengan lagu padahal mereka tak memahami bahwa lagu itu adalah bentuk sindiran.
| Antara Alam, Perubahan Iklim dan Masa Depan |
|
|---|
| Membaca IUU Fishing Sebagai Blue Water Crime International |
|
|---|
| Pancasila sebagai Kompas Pembaruan Hukum Pidana Nasional |
|
|---|
| AI, Terjemahan, dan Hak Warga: Mengakhiri 'Diskriminasi Bahasa' dalam Layanan Publik |
|
|---|
| Pembangunan yang Mendengar: Suara Warga Tidak Boleh Diabaikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Hudzaifah-Kadir-05062026.jpg)