Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Analisis Prof Hamid Paddu

Sulawesi Selatan Tidak Kekurangan Orang Pintar, Tetapi Kekurangan Mesin Gagasan

Kita membutuhkan tempat di mana para ekonom, insinyur, teknolog, sosiolog, pengusaha, dan pembuat kebijakan duduk bersama memikirkan masa depan

Tayang:
Editor: AS Kambie
TRIBUN-TIMUR.COM / DIWAN
FORUM DOSEN - Guru Bidang Ilmu Ekonomi Keuangan Negara Unhs Prof Dr H Hamid Paddu MA di newsroom Tribun Timur, Jl Cenderawasih, Makassar, Rabu (3/9/2025) sore. Menurut menulis analisis untuk Tribun-Timur.com pada 7 Juni 2026 berjudul "Sulawesi Selatan Tidak Kekurangan Orang Pintar, Tetapi Kekurangan Mesin Gagasan. 

Oleh: Prof Dr Abd Hamid Paddu MA

Dewan Pakar CIDES ICMI Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Di hampir setiap ruang diskusi pembangunan daerah, pertanyaan yang sama selalu muncul: mengapa Sulawesi Selatan masih tertinggal dibandingkan wilayah Jawa?

Padahal jika yang dihitung adalah sumber daya manusia, Sulawesi Selatan tidak miskin. Kita memiliki masyarakat yang ulet dan tangguh, puluhan perguruan tinggi, ratusan profesor, ribuan doktor, birokrat berpengalaman, pengusaha tangguh, serta diaspora yang tersebar di berbagai pusat ekonomi Indonesia dan dunia.

Tetapi sejarah pembangunan tidak pernah ditentukan oleh banyaknya orang pintar. Sejarah ditentukan oleh kemampuan mengorganisasi pengetahuan menjadi kebijakan. Di situlah Sulawesi Selatan tertinggal.

Selama beberapa dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan relatif baik dibandingkan banyak provinsi lain di luar Jawa. Namun jika dibandingkan dengan kawasan metropolitan di Jawa, jaraknya masih terlalu jauhdan cenderung stagnan.

Pusat-pusat inovasi nasional masih terkonsentrasi di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan sebagian Yogyakarta. Sebagian besar investasi teknologi, riset industri, pusat keuangan, dan pengambilan keputusan nasional juga berputar di koridor yang sama.

Sulawesi Selatan sering menjadi pasar. Belum sepenuhnya menjadi pusat gagasan. Kita lebih sering menjadi objek kebijakan daripada produsen kebijakan.Lebih sering menerima program daripada merancang masa depan.

Padahal sejak masa perdagangan maritim Nusantara, Makassar pernah menjadi salah satu simpul ekonomi terpenting di Asia Tenggara.

Ada sesuatu yang hilang dalam perjalanan panjang itu. Bukan keberanian.Bukan sumber daya. Melainkan institusi yang secara konsisten menghasilkan ide besar, diperlukan revolusi kecerdasan, revolusi gagasan Sulawesi.

Negara-negara maju memahami satu hal penting.Kemajuan tidak lahir hanya dari gedung pemerintahan atau proyek infrastruktur. Kemajuan lahir dari lembaga yang memikirkan masa depan.

Amerika Serikat memiliki RAND Corporation, Brookings Institution, Heritage Foundation, CSIS, dan puluhan think tank lainnya. Inggris memiliki Chatham House. Singapura memiliki Institute of Policy Studies. Korea Selatan memiliki Korea Development Institute.

Lembaga-lembaga ini tidak membangun jalan. Tidak mengoperasikan pelabuhan. Tidak menjalankan pemerintahan. Tetapi gagasan mereka membentuk arah pembangunan nasional.

Mereka menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan publik. Mereka mengubah data menjadi keputusan. Mereka menerjemahkan penelitian menjadi strategi.

Sulawesi Selatan membutuhkan institusi semacam itu. Bukan untuk meniru Barat. Tetapi untuk menjawab persoalan kita sendiri.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved