Opini
Depresiasi Rupiah dan Tantangan Riset di Perguruan Tinggi Kita
Di tengah tuntutan publikasi ilmiah dan inovasi akademik, depresiasi rupiah membuat aktivitas penelitian menjadi semakin mahal dan menantang.
Ketika rupiah melemah, biaya publikasi otomatis menjadi lebih mahal.
Hal yang sama juga terjadi pada konferensi internasional dan akses terhadap berbagai sumber daya penelitian berbasis digital.
Akibatnya, tidak sedikit peneliti yang akhirnya harus menunda publikasi, membatasi ruang lingkup penelitian, atau bahkan menggunakan perangkat dengan spesifikasi terbatas.
Belum lagi kalau kita bicara pada penelitian di bidang kecerdasan buatan, visi komputer, analisis data, dan komputasi modern.
Semuanya membutuhkan perangkat dengan kemampuan tinggi.
Sehingga, jika harga GPU, server, maupun perangkat pendukung lainnya mengalami kenaikan seiring melemahnya rupiah, maka tantangannya akan terasa semakin berat.
Padahal, teknologi tersebut kini menjadi bagian penting dalam pengembangan inovasi dan daya saing perguruan tinggi.
Tantangan Perguruan Tinggi di Daerah
Jika kita mau jujur, dampak depresiasi rupiah tentu tidak hanya dirasakan oleh perguruan tinggi di perkotaan, tetapi juga oleh kampus-kampus di daerah.
Bahkan, perguruan tinggi di daerah menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.
Keterbatasan fasilitas penelitian dan akses pendanaan membuat dampak pelemahan rupiah terasa semakin berat.
Tidak semua kampus memiliki laboratorium dengan infrastruktur yang memadai maupun dukungan hibah penelitian yang besar.
Dalam kondisi seperti ini, kesenjangan kualitas riset antara perguruan tinggi besar dan kampus daerah berpotensi semakin melebar.
Oleh karena itu, maka realitas tersebut patut menjadi perhatian bersama.
Seharusnya kita menyadari bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan berbagai solusi bagi masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Baizul-Zaman-SKom-MT-Dosen-STMIK-Kharisma-Makassar-Pegiat-Media-Sosial.jpg)