Opini
Depresiasi Rupiah dan Tantangan Riset di Perguruan Tinggi Kita
Di tengah tuntutan publikasi ilmiah dan inovasi akademik, depresiasi rupiah membuat aktivitas penelitian menjadi semakin mahal dan menantang.
Oleh: Baizul Zaman, S.Kom., M.T
Dosen STMIK Kharisma Makassar
TRIBUN-TIMUR.COM - Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung di tahun 2026 ini, nilai tukar rupiah terus menghadapi tekanan terhadap dolar Amerika Serikat.
Sayangnya, banyak pihak yang hanya mengaitkan pelemahan nilai tukar rupiah ini dengan kenaikan harga barang impor, tekanan ekonomi nasional, hingga meningkatnya biaya kebutuhan hidup masyarakat.
Padahal, ada satu sektor yang juga diam-diam ikut terdampak, yakni dunia riset di perguruan tinggi.
Di tengah tuntutan publikasi ilmiah dan inovasi akademik, depresiasi rupiah membuat aktivitas penelitian menjadi semakin mahal dan menantang.
Jika selama ini, perhatian terhadap dampak depresiasi rupiah lebih banyak tertuju pada sektor perdagangan dan industri maka hal ini tentulah merupakan kesalahan yang fatal.
Pasalnya, dunia pendidikan tinggi juga memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap berbagai produk dan layanan berbasis dolar Amerika Serikat.
Mulai dari biaya publikasi jurnal internasional, lisensi perangkat lunak penelitian, layanan komputasi awan, hingga perangkat keras seperti laptop, server, dan GPU sebagian besar masih bergantung pada pasar global.
Kondisi tersebut membuat biaya penelitian meningkat ketika rupiah mengalami pelemahan.
Bagi dosen dan peneliti, situasi ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan tantangan nyata dalam menjaga produktivitas akademik.
Banyak peneliti harus menyesuaikan kembali perencanaan riset karena keterbatasan anggaran yang tidak lagi mampu menjangkau kebutuhan penelitian secara optimal.
Ironisnya, di tengah meningkatnya biaya penelitian, tuntutan produktivitas akademik justru tetap tinggi.
Dosen tetap dituntut menghasilkan publikasi ilmiah, mengikuti konferensi internasional, membangun inovasi, serta meningkatkan reputasi institusi.
Publikasi pada jurnal bereputasi internasional bahkan telah menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian kinerja dosen maupun perguruan tinggi.
Persoalannya, sebagian besar biaya publikasi internasional menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Baizul-Zaman-SKom-MT-Dosen-STMIK-Kharisma-Makassar-Pegiat-Media-Sosial.jpg)