Opini
Bahasa Indonesia dan Kebangkitan di Tengah Dinamika Global
Kebangkitan tidak cukup dipahami sebagai romantisme sejarah 1908, ketika kesadaran berbangsa mulai menemukan bentuknya.
Tayang:
Editor:
Abdul Azis Alimuddin
Tribun-timur.com
OPINI - Andi Sukri Syamsuri, Wakil Rektor I Unismuh Makassar / Ketua IKA Probsi Wilayah Sulselra
Bahasa Indonesia adalah jembatan untuk menempuh jalan itu.
Ia memungkinkan bangsa ini menyerap ilmu, menjalin kerja sama, menerima investasi, dan berinteraksi dengan dunia tanpa melepaskan identitasnya.
Maka, memperkuat bahasa Indonesia bukan sikap defensif, melainkan strategi kebangsaan.
Di Hari Kebangkitan Nasional 2026, kita perlu mengingat bahwa bangsa yang besar tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonominya, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga bahasa sebagai martabat kolektif.
Indonesia boleh semakin global, tetapi ia harus tetap berbicara dengan suara sendiri.
Suara itu bernama bahasa Indonesia.(*)
Berita Terkait: #Opini
| Menata Estetika Pemilu 2029: Mengapa Kampanye Kolektif Caleg Adalah Solusi Masa Depan |
|
|---|
| Pesta Babi, Papua dan Kita |
|
|---|
| Ketika Cinta Klub Melampaui Batas: Refleksi Sosiologis atas Perilaku Suporter Sepak Bola |
|
|---|
| Dolar di Dapur dan Desa |
|
|---|
| Rupiah Melemah, Rokok Tetap Menyala: Krisis Ekonomi Tidak Selalu Membuat Orang Berhenti Merokok |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260306-Prof-Andi-Sukri-Syamsuri-guru-besar-bahasa-bugis.jpg)