Lacipolo: Pelopor Kawasan Terintegrasi Program Kerakyatan Prabowo
SPPG Tamarupa melayani hampir 4.000 siswa di Kecamatan Mandalle Pangkep, denyut ekonomi punya energi baru
Oleh: Tamsil Linrung
Wakil Ketua DPD RI
POIN enam Asta Cita Presiden mulai mengubah arah pembangunan bangsa. Fenomenanya menarik. Jika dulu kota menjadi episentrum, kini resonansinya berbalik. Orientasi pembangunan ekonomi justru berangkat dari desa, dari wilayah administratif paling bawah tanah air.
Membacanya tak perlu teori ekonomi berlebihan. Tengok saja dinamika warga kampung. Mereka mulai sibuk. Mulai bergairah. Mulai membangun harapan.
Di Desa Tamarupa, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, misalnya. Di sana, di jantung desa bernama Dusun Lacipolo, denyut ekonomi terasa punya energi baru. Lebih kencang, lebih menjanjikan.
Ceritanya begini. Awalnya hanya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Tetapi dari satu unit SPPG ini membuncahlah beragam mimpi.
SPPG Tamarupa melayani hampir 4.000 siswa di Kecamatan Mandalle. Angka ini menjelaskan kebutuhan suplai bahan pangan berskala jumbo. Sayangnya, UMKM setempat belum sanggup memenuhi semuanya. Demi menjaga stabilitas pasokan, SPPG pun bermitra dengan pemasok besar.
Tetapi SPPG Tamarupa cukup idealis. Secara perlahan, mereka mengevaluasi ketergantungan pada pemasok besar. Di saat yang sama, SPPG mendorong lahirnya UMKM baru, kemudian membangun kemitraan. Maklum, SPPG Tamarupa mulai ekspansi, melayani pemenuhan kebutuhan gizi anak di bawah lima tahun (balita), ibu hamil, dan ibu menyusui.
Untuk menambah rantai pasok baru dan stabilitas pasokan, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi jawaban. Lalu dibangunlah KDMP Tamarupa. Agar efektif-efisien, lokasinya dibuat berdekatan. Boleh dibilang masih satu kawasan, di Dusun Lacipolo, dusun kelahiran saya.
Fungsi KDMP Tamarupa cukup komprehensif. Nantinya, selain melayani kebutuhan sehari-hari warga, koperasi ini juga akan menjadi pemasok utama SPPG. Uniknya, walau belum beroperasi, bakal pengurus koperasi mulai aktif membangun jaringan kemitraan baru dengan petani, nelayan, dan UMKM. Tengkulak diamputasi, jalur distribusi dibuat simpel.
Dengan dua unit itu saja (SPPG dan KDMP) ekonomi Desa Tamarupa mulai bangkit. Kebangkitan ekonomi ini akan semakin kuat karena —di saat bersamaan— juga digagas pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
KNMP Tamarupa bakal dilengkapi stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBUN), pabrik es dan cold storage, pusat pelelangan ikan, bahkan arena kuliner. Satu hal yang pasti, rumah-rumah nelayan menjadi sebuah prioritas.
Markas Peradaban
Dusun Lacipolo pada akhirnya menjadi “markas peradaban” yang mengintegrasikan program kerakyatan Presiden Prabowo Subianto. Di sinilah SPPG, KDMP, dan KNMP berdiri dalam satu kawasan yang sama, saling terkoneksi, saling menopang, saling mengokohkan. Kawasan ini bahkan akan dilengkapi masjid. Lahannya telah disiapkan, gambarnya sedang disiapkan arsitek lokal.
Di banyak desa dan kota lain, SPPG, KDMP, dan KNMP memang telah ada dan eksis. Namun, belum satu pun yang merancang ketiga unit itu dalam satu kawasan yang sama. Dari perspektif ini, Dusun Lacipolo boleh dibilang punya nilai lebih dan unik. Dan ini adalah nilai lebih pertama.
Nilai lebih kedua adalah sifat pergerakan pengelola yang sadar ilmu pengetahuan. Dalam mengembangkan kawasan, pengelola tak cuma mengejar target fisik bangunan. Mereka bekerjasama dengan Politeknik Pertanian (Politani) Negeri Pangkep dalam merancang cetak biru Kawasan Integrasi Program Kerakyatan Presiden Prabowo.
| 1 Juni Bukan Hari Lahir Pancasila |
|
|---|
| Memetik Pelajaran Ketahanan Energi dari Kasus Blackout Sumatera 22 Mei 2026 |
|
|---|
| Pancasila: Kompas Bangsa atau Sekadar Retorika? |
|
|---|
| Berkah Petani Gagal Panen di Pinrang, Dapat Daging Sapi Bantuan Prabowo |
|
|---|
| Sapi Brahman 'Prabowo' Berbobot 910 Kg Hasilkan 400 Paket Daging Kurban |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260601-Tamsil-Linrung-Wakil-Ketua-DPD-RI.jpg)