Opini
Bahasa Indonesia dan Kebangkitan di Tengah Dinamika Global
Kebangkitan tidak cukup dipahami sebagai romantisme sejarah 1908, ketika kesadaran berbangsa mulai menemukan bentuknya.
— Refleksi Hari Kebangkitan Nasional 2026
Oleh: Andi Sukri Syamsuri
Wakil Rektor I Unismuh Makassar dan Ketua IKA Probsi Wilayah Sulselra
TRIBUN-TIMUR.COM - Setiap kali Hari Kebangkitan Nasional diperingati, kita diajak kembali membaca arah perjalanan bangsa.
Kebangkitan tidak cukup dipahami sebagai romantisme sejarah 1908, ketika kesadaran berbangsa mulai menemukan bentuknya.
Kebangkitan harus dibaca sebagai kemampuan bangsa menjawab tantangan zamannya.
Jika dahulu kebangkitan ditandai oleh tumbuhnya kesadaran kolektif untuk keluar dari belenggu kolonialisme, kini kebangkitan ditentukan oleh kemampuan menjaga kedaulatan, martabat, dan identitas di tengah arus global yang bergerak sangat cepat.
Salah satu penanda penting kedaulatan itu adalah bahasa.
Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi.
Ia adalah rumah bersama yang memungkinkan masyarakat dari berbagai suku, agama, daerah, dan latar sosial merasa menjadi bagian dari satu bangsa.
Melalui bahasa Indonesia, gagasan kebangsaan dirawat, pendidikan diselenggarakan, ilmu pengetahuan dikembangkan, pemerintahan dijalankan, dan hubungan sosial antarsesama warga dibangun.
Karena itu, membicarakan bahasa Indonesia dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional berarti membicarakan salah satu fondasi utama keindonesiaan.
Tantangannya kini tidak sederhana.
Globalisasi telah mengubah wajah dunia kerja, pendidikan, industri, dan hubungan antarnegara.
Mobilitas manusia berlangsung cepat melintasi batas geografis.
Tenaga kerja asing datang ke Indonesia, sementara tenaga kerja Indonesia juga menyebar ke berbagai negara.
Perusahaan, kawasan industri, kampus, dan ruang digital semakin terhubung dengan jaringan global.
| Menata Estetika Pemilu 2029: Mengapa Kampanye Kolektif Caleg Adalah Solusi Masa Depan |
|
|---|
| Pesta Babi, Papua dan Kita |
|
|---|
| Ketika Cinta Klub Melampaui Batas: Refleksi Sosiologis atas Perilaku Suporter Sepak Bola |
|
|---|
| Dolar di Dapur dan Desa |
|
|---|
| Rupiah Melemah, Rokok Tetap Menyala: Krisis Ekonomi Tidak Selalu Membuat Orang Berhenti Merokok |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260306-Prof-Andi-Sukri-Syamsuri-guru-besar-bahasa-bugis.jpg)