Opini
Bahasa Indonesia dan Kebangkitan di Tengah Dinamika Global
Kebangkitan tidak cukup dipahami sebagai romantisme sejarah 1908, ketika kesadaran berbangsa mulai menemukan bentuknya.
Dalam situasi demikian, bahasa tidak lagi hanya menjadi urusan kebudayaan, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam relasi sosial, profesional, ekonomi, bahkan diplomatik.
Bahasa sebagai Infrastruktur Kebangkitan
Indonesia sendiri sedang berada dalam fase penting pertumbuhan ekonomi.
Masuknya investasi asing memperlihatkan bahwa Indonesia dipandang sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru di kawasan Asia.
Realisasi investasi tahun 2025 yang mencapai Rp 1.931,2 triliun, sebagaimana dicatat Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, menunjukkan kuatnya daya tarik Indonesia, terutama pada sektor hilirisasi dan industri strategis.
Namun, keterhubungan ekonomi global itu membawa konsekuensi sosial dan kebahasaan yang tidak dapat diabaikan.
Di banyak kawasan industri, tenaga kerja Indonesia bekerja berdampingan dengan tenaga kerja asing dari berbagai latar budaya dan bahasa.
Interaksi itu membutuhkan komunikasi yang jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam proses kerja, pelayanan, keselamatan, maupun transfer teknologi.
Di sinilah bahasa Indonesia memiliki posisi strategis. Ia menjadi medium integrasi, bukan hanya bagi warga negara Indonesia, melainkan juga bagi siapa pun yang bekerja, belajar, dan hidup dalam ruang sosial Indonesia.
Penguasaan bahasa Indonesia oleh tenaga kerja asing bukan perkara administratif belaka.
Ia merupakan bagian dari adaptasi sosial dan penghormatan terhadap ruang kebangsaan Indonesia.
Sebaliknya, kemampuan tenaga kerja Indonesia menggunakan bahasa Indonesia secara profesional, ilmiah, dan komunikatif juga menjadi syarat penting agar mereka tidak terasing di negeri sendiri.
Bangsa yang bangkit bukan hanya bangsa yang menguasai bahasa asing, melainkan juga bangsa yang percaya diri menggunakan bahasa nasionalnya dalam percakapan modern.
Di tengah dominasi bahasa asing dalam industri, teknologi, dan pendidikan tinggi, ada gejala yang patut dicermati.
Bahasa Indonesia kadang justru terpinggirkan di ruang profesional.
| Menata Estetika Pemilu 2029: Mengapa Kampanye Kolektif Caleg Adalah Solusi Masa Depan |
|
|---|
| Pesta Babi, Papua dan Kita |
|
|---|
| Ketika Cinta Klub Melampaui Batas: Refleksi Sosiologis atas Perilaku Suporter Sepak Bola |
|
|---|
| Dolar di Dapur dan Desa |
|
|---|
| Rupiah Melemah, Rokok Tetap Menyala: Krisis Ekonomi Tidak Selalu Membuat Orang Berhenti Merokok |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260306-Prof-Andi-Sukri-Syamsuri-guru-besar-bahasa-bugis.jpg)