Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Opini

Ketika Cinta Klub Melampaui Batas: Refleksi Sosiologis atas Perilaku Suporter Sepak Bola

Ia adalah peristiwa sosial yang melibatkan identitas, emosi, kebanggaan, solidaritas, bahkan luka kolektif.

Tayang:
Ist
OPINI - Dr. Andi Ahmad Hasan Tenriliweng, M.Si, Dosen Sosiologi Unhas 

Oleh: Dr. Andi Ahmad Hasan Tenriliweng, M.Si
Dosen Sosiologi Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Sepak bola tidak pernah hanya tentang pertandingan di lapangan.

Ia adalah peristiwa sosial yang melibatkan identitas, emosi, kebanggaan, solidaritas, bahkan luka kolektif.

Di stadion, ribuan orang tidak sekadar hadir sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang merasa memiliki hubungan batin dengan klub yang didukungnya.

Karena itu, ketika sebuah pertandingan berakhir ricuh, persoalannya tidak cukup dijelaskan hanya dengan kalimat “suporter kecewa”.

Kekecewaan memang dapat menjadi pemicu, tetapi kekisruhan stadion hampir selalu memiliki akar sosial yang lebih kompleks.

Kejadian pasca pertandingan PSM Makassar melawan Persib Bandung di Stadion BJ Habibie, Parepare, pada 17 Mei 2026, dapat menjadi bahan refleksi penting.

Pertandingan yang berlangsung dalam tensi tinggi dan berakhir dramatis memunculkan luapan emosi sebagian penonton.

Sejumlah laporan media menggambarkan adanya suporter yang masuk ke lapangan, penyalaan flare dan petasan, serta situasi yang membuat pemain harus segera diamankan.

Peristiwa ini tidak hanya penting bagi dunia sepak bola, tetapi juga bagi kajian sosiologi olahraga, terutama dalam memahami bagaimana emosi kolektif di stadion dapat berubah dari dukungan menjadi tindakan yang membahayakan.

Dalam sosiologi olahraga, suporter dipahami sebagai komunitas sosial.

Mereka datang ke stadion bukan semata-mata untuk menyaksikan pertandingan, melainkan juga untuk menegaskan identitas.

Jersey, syal, bendera, chant, koreografi, dan tribun adalah simbol-simbol sosial yang memperlihatkan rasa memiliki.

Klub sepak bola kerap diposisikan sebagai representasi harga diri kelompok, kota, daerah, bahkan kelas sosial tertentu.

Kemenangan dirayakan sebagai kebanggaan bersama, sementara kekalahan sering dirasakan sebagai luka bersama.

Sumber: Tribun Timur
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved