Opini
Bahasa Indonesia dan Kebangkitan di Tengah Dinamika Global
Kebangkitan tidak cukup dipahami sebagai romantisme sejarah 1908, ketika kesadaran berbangsa mulai menemukan bentuknya.
Istilah asing digunakan secara berlebihan, rapat-rapat korporasi lebih sering memakai bahasa asing, dan dokumen kerja kerap mengabaikan padanan bahasa Indonesia.
Tentu, penguasaan bahasa asing tetap penting.
Namun, menjadikan bahasa asing sebagai ukuran tunggal modernitas adalah kekeliruan.
Modernitas tidak harus dibayar dengan pelemahan bahasa nasional.
Menjadi Global Tanpa Kehilangan Suara
Hari Kebangkitan Nasional memberi kita alasan untuk menegaskan kembali bahwa bahasa Indonesia adalah modal strategis bangsa.
Ia harus hadir kuat dalam pendidikan, industri, teknologi, diplomasi, dan ruang digital.
Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) perlu terus diperluas sebagai bagian dari diplomasi budaya.
Perguruan tinggi harus melahirkan lulusan yang tidak hanya cakap berbahasa asing, tetapi juga mampu menulis, berbicara, meneliti, dan berargumentasi dalam bahasa Indonesia yang baik.
Dunia industri juga perlu menyediakan pelatihan bahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing sebagai bagian dari etika bekerja di Indonesia.
Penguatan bahasa Indonesia juga harus masuk ke ranah teknologi.
Perkembangan kecerdasan buatan dan pengolahan bahasa alami membuka peluang besar bagi bahasa Indonesia untuk hadir lebih kuat di ruang digital global.
Korpus bahasa Indonesia, penerjemahan mesin, aplikasi pendidikan, dan perangkat komunikasi berbasis kecerdasan buatan harus dikembangkan secara serius.
Jika tidak, bahasa Indonesia hanya akan menjadi pengguna, bukan ikut membentuk arah peradaban digital.
Pada akhirnya, kebangkitan nasional pada abad ke-21 menuntut keberanian baru: terbuka kepada dunia, tetapi tidak kehilangan diri.
| Menata Estetika Pemilu 2029: Mengapa Kampanye Kolektif Caleg Adalah Solusi Masa Depan |
|
|---|
| Pesta Babi, Papua dan Kita |
|
|---|
| Ketika Cinta Klub Melampaui Batas: Refleksi Sosiologis atas Perilaku Suporter Sepak Bola |
|
|---|
| Dolar di Dapur dan Desa |
|
|---|
| Rupiah Melemah, Rokok Tetap Menyala: Krisis Ekonomi Tidak Selalu Membuat Orang Berhenti Merokok |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/20260306-Prof-Andi-Sukri-Syamsuri-guru-besar-bahasa-bugis.jpg)