Opini
Dolar di Dapur dan Desa
Dolar Amerika Serikat mungkin tidak pernah hadir secara fisik di dapur rumah tangga desa.
Oleh: Fahmi Prayoga
Economist, Public Policy Analyst, and Researcher of SmartID
TRIBUN-TIMUR.COM - Dolar Amerika Serikat mungkin tidak pernah hadir secara fisik di dapur rumah tangga desa.
Ia tidak dipakai untuk membeli beras, minyak goreng, telur, gula, cabai, atau ikan.
Di pasar tradisional, kios pupuk, warung sembako, hingga tempat pelelangan ikan, transaksi sehari-hari tetap berlangsung dalam rupiah.
Namun, ekonomi tidak hanya bekerja melalui apa yang tampak di permukaan.
Ia juga bekerja melalui struktur biaya, rantai pasok, ekspektasi, dan keterhubungan antarpasar.
Dolar dapat tidak hadir sebagai alat pembayaran, tetapi tetap bekerja sebagai penentu biaya.
Ia tidak masuk ke dompet rakyat, tetapi dapat masuk ke harga barang yang dibayar rakyat.
Karena itu, menyatakan bahwa masyarakat desa tidak terdampak dolar hanya karena tidak menggunakan dolar adalah kesimpulan yang terlalu sederhana.
Pernyataan itu mungkin benar secara transaksional, tetapi tidak memadai secara ekonomi.
Dalam ekonomi terbuka, yang menentukan bukan hanya mata uang apa yang dipakai untuk membayar, melainkan mata uang apa yang membentuk harga.
Rantai Biaya
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, hubungan ini dapat dibaca dengan cukup konkret.
Petani di Sidrap, Bone, Wajo, atau Enrekang membutuhkan pupuk, pestisida, alat pertanian, dan biaya angkut.
Nelayan di Pangkep, Bulukumba, Sinjai, atau Takalar membutuhkan BBM, es, mesin kapal, dan perlengkapan melaut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Fahmi-Prayoga-20052026.jpg)