Opini
Hari Kebangkitan Nasional dan Krisis Empati Negara
Kebangkitan nasional lahir dari kegelisahan kaum terdidik melihat penderitaan sosial di tengah sistem kolonial yang menindas.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu tumbuh secara ekonomi, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga empati sosial di tengah perubahan zaman.
Dalam sejarahnya, para pelopor kebangkitan nasional adalah kelompok yang memiliki kepekaan terhadap penderitaan sosial.
Mereka menyadari bahwa penjajahan bukan hanya soal kekuasaan politik, tetapi juga soal hilangnya martabat manusia.
Karena itu, pendidikan, kesadaran kolektif, dan keberpihakan terhadap rakyat menjadi fondasi utama gerakan kebangsaan saat itu.
Ironisnya, di era modern sekarang, ketika teknologi semakin maju dan komunikasi semakin terbuka, negara justru berisiko kehilangan sensitivitas sosialnya.
Kebijakan sering lahir secara elitis dan teknokratis, jauh dari suara masyarakat akar rumput.
Rakyat hanya menjadi objek pembangunan, bukan subjek yang didengar aspirasinya.
Kondisi ini tentu berbahaya bagi masa depan demokrasi.
Ketika rakyat merasa tidak didengar, maka kepercayaan publik perlahan akan terkikis.
Dan ketika kepercayaan melemah, pembangunan sebesar apa pun akan sulit melahirkan rasa memiliki di tengah masyarakat.
Karena itu, memperingati Hari Kebangkitan Nasional semestinya menjadi momentum refleksi bersama.
Negara perlu kembali membangun politik empati, bukan sekadar politik pencitraan.
Pemerintah perlu membuka ruang dialog yang sehat dengan masyarakat sipil, mahasiswa, akademisi, petani, nelayan, buruh, dan kelompok-kelompok rentan lainnya.
Kritik tidak boleh dianggap musuh pembangunan, sebab justru dari kritik itulah negara dapat memahami luka sosial yang sering tersembunyi di balik laporan-laporan resmi.
Selain itu, kaum intelektual dan kampus juga memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga nalar kritis publik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/2026-03-28-Johansyah-Mansyur.jpg)