Opini
Kukuh dengan pola Lama, atau Pulang ke Rumah Kemenangan
Di tingkat nasional, Partai Golkar pernah menjadi pemenang mutlak pada pemilu sebelum reformasi.
Oleh: Hidayah Muhallim
Peneliti Sosial
TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam film The Godfather, ada satu nasihat abadi dari Don Corleone: "Great men are not born great, they grow great."
Politik pun demikian.
Tidak ada kejayaan yang bersifat genetis—yang sekali menang akan menang selamanya.
Di tingkat nasional, Partai Golkar pernah menjadi pemenang mutlak pada pemilu sebelum reformasi.
Kemudian tampil PDIP, lalu Partai Demokrat.
Kini PDIP lagi.
Di Sulawesi Selatan, rasanya kita baru saja menyaksikan bagaimana sebuah partai seperti Golkar yang puluhan tahun "memegang kunci" gerbang kekuasaan, harus rela melihat kuncinya berpindah tangan ke partai lain, Partai Nasdem pada Pemilu 2024.
Ibarat sebuah kapal besar yang terbiasa membelah ombak, ia tiba-tiba terhenti oleh pasang surut zaman yang tak terduga.
Dalam dinamika politik, perubahan bisa terjadi kapan saja.
Kalau suatu partai politik tidak lagi bisa mempertahankan hegemoninya, maka partai lain akan datang menggantikannya.
Seusai Golkar, lalu Nasdem.
Dan begitu pun jika nantinya Nasdem tak sanggup bertahan, maka bisa jadi Gerindra akan tampil menggantikannnya, atau bisa saja Golkar kembali.
Kekalahan bukanlah titik, melainkan koma.
Menjelang pemilu 2029, pertanyaan besarnya bukan lagi "mengapa kita kalah?", melainkan "bagaimana kita pulang?"— untuk mengulang kemenangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Hidayah-Muhallim-Peneliti-Penta-Helix-Indonesia-dan-Sekum-MW-KAHMI-Sulsel-89.jpg)